The Witch of Portobello

January 23, 2019


Sang penyihir dari Portobello

Bagaimana menemukan keberanian untuk senantiasa jujur pada diri sendiri bahkan pada saat kita tak yakin akan diri kita?

Itulah pertanyaan utama dalam karya terbaru penulis bestseller Paulo Coelho, sang penyihir dari Portobello. Kisahnya tentang perempuan misterius bernama Athena yang disampaikan oleh banyak orang yang mengenalnya dengan baikatau nyaris tak mengenalnya sama sekali. Seperti halnya sang Alkemis, kisah sang penyihir dari Portobello ini memiliki kekuatan untuk mengubah sudut pandang para pembacanya mengenai cinta, gairah, suka cita, dan pengorbanan.

Kalau kalian sudah baca The Witch of Portobello, pasti tau kalau itu bukan pendapat saya. Tapi sinopsis bukunya hahah. Lalu saya tidak sependapat gitu sama sinopsisnya?

Yah, tentu saja sependapat pada beberapa hal, sisanya berhasil mengubah sudut pandang saya. Yakan, itu juga sependapat namanya.

Oke, tapi pada beberapa hal lain, buku ini cukup absurd menurutku.

Saya gemar jajan buku, sedari dulu. Kuanggap itu sebagai kebiasaan baik. Meski tidak benar-benar membaca, yang kemudian menjadi kebiasaan buruknya.

Lalu, kebiasaan buruk selanjutnya adalah, saya tidak pernah benar-benar teliti dalam memilih, kadang suka random dan asal ambil saja. Apalagi kalau sampulnya menarik atau sekedar tau penulisnya, tanpa membaca sinopsis.

Karena saya bukan pembaca yang rajin, kegemaran mengumpulkan buku sebenarnya menjadi upaya membujuk diri sendiri untuk membaca. Entah kapan akan dibaca, tapi kalau sudah punya dulu, nanti bisa dibaca kapan-kapan.

Seperti The Witch of Portobello, punya Paulo Coelho ini, sudah terbeli sejak awal tahun lalu tapi baru sempat mulai terbaca.

Waktu memilih ini, saya bahkan tidak benar-benar membaca judulnya, hanya karena saya sudah pernah membaca Sang Alkemis dan Aleph yang memikat – (Karangan Paulo Coelho yang lain).

Tau-taunya ini bukan novel, melainkan biography seorang penyihir dari sudut pandang orang-orang yang mengenalnya. Tapi seperti biasa, Paulo selalu berhasil memikat dengan gaya menulisnya yang menarik. Meski buku ini tidak sebegitu menarik sebenarnya.

Hanya kebetulan saja sedang saya baca, dan di waktu yang bersamaan saya menerima tantangan menulis dari pemilik Blog Lelaki Bugis, dalam menyiasati kemalasan dan Mind Block yang menyerang beberapa bulan belakangan.

Task ini saya terima tentu saja dengan kesepakatan “Tulisan tak mesti bagus, tapi dibelikan buku” Hahahah, bagian yang paling menggiurkan. Kalau kalian kebetulan punya dendam pribadi pada si Lelaki Bugis, saya rasa ini adalah kesempatan untuk merekomendasikanku buku yang bagus sekaligus paling mahal harganya.

Sebenarnya ada tiga pilihan tema, selain review buku (menanggapi hasil bacaan), ada film dan juga nongkrong di cafe sambil mengamati suasana. Sekarang sedang musim hujan dan banjir di mana-mana, bikin malas beranjak dan film yang sedang saya tonton sekarang hanya Game of Thrones, jangan tanya mengapa saya baru menonton film yang sudah digemari jutaan umat sejak dulu itu.

Karena kalau saya mengambil task review film, saya pasti akan menggarisbawahi bagian yang keren dan bagian yang mengganggu. Sedang saya tidak ingin menuliskan bagian yang menggagu itu. Misalnya, Daenerys Targeryen yang gemar pamer tubuh (Alle, keceplosan). Masih jarang yang tahu kalau imajinasi saya cukup liar (Kan, keceplosan lagi -_-)

Baiklah, kita kembali membahas bukunya.
Athena, penyihir perempuan yang dikisahkan sebagai lakon dalam The Witch of Portobello ini adalah seorang yang dalam pencarian jati dirinya menemukan puncak kepuasan spiritual melalui tarian dan musik.

Nama Aslinya Sherine khalil, ia seorang anak gipsi (yang menurut legenda, bangsa gipsi suka menculik anak-anak dan membawa mereka ke karavan) terbuang yang lalu diadopsi dari penampungan anak yang dingin, dibawa ke lebanon.

Ia melalui masa-masa remajanya dengan banyak pertanda. Pertanda keterlibatan berbagai hal mistis dalam hidupnya. Seperti, ia kerap bercerita tentang kawan-kawannya yang berjubah putih. Oleh legenda ditandai sebagai malaikat dan berkenaan dengan kemampuan sihir dalam era dimana kejayaan dunia sihir telah lama musnah dan semua yang tak bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan tak punya hak untuk eksis.

Perburuan dan pembantaian ras penyhir telah lama berlalu. Di abat ke-21, bentuk lain dari perburuan penyihir, yang senjatanya bukan lagi besi panas menyala, tetapi ironi dan depresi. Siapa pun yang kebetulan menyadari talentanya (keahlian sihir) dan berani mengungkapkan kelebihannya, lebih sering dihadapkan pada ketidakpercayaan, dan akan dianggap sebagai cela dan penghinaan bagi keluarga mereka. Keahlian sihir itu pula yang telah membuat Athena terbunuh secara brutal.

Ia memutuskan untuk menikah di usia muda, dan juga memiliki anak lelaki yang kemudian menjadi alasan perceraiannya dengan Lukas, yang merasa diabaikan oleh kehadiran anaknya sendiri. Ini bagian yang menurutku cukup absurd dan sedikit tidak masuk akal. Obsesi Athena mengabdikan hidup untuk merawat putranya. (mungkin buibu dan pakbapak lebih paham soal ini, apa iya seorang akan begitu terobsesi pada pengabdiannya mengahiskan waktu hanya untuk anaknya?!) dan dipengakuan yang lain, ia mencintai lukas melebihi pria mana pun yang pernah ia temui, sekaligus tak berbuat apa-apa saat lukas mengajukan wacana cerai.

Bagian-bagian absud selanjutnya berkenaan dengan keyakinan, yang tak mungkin kugugat. Tapi selain bagian yang absurd, ada beberapa bagian yang kusuka.


Ada satu kutipan yang menarik di buku ini; “Tidak seorang pun bisa memanipulasi orang lain. Dalam setiap hubungan kedua belah pihak paham apa yang sedang mereka lakukan, bahkan jika salah satunya mengeluh di kemudian hari bahwa dia hanya dimanfaatkan”.

Ragam terjadi, dalam hal hubungan asmara, atau tengah jatuh cinta misalnya. Di saat kalian keluar rumah untuk acara kencan, memangnya kalian meninggalkan akal sehat di rumah? Tidak kan?

Nah, kalau tak pakai akal sehat, kelak jika hubungan itu tengah menghadapi kemelut, misalnya. Beberapa orang akan menganggap dirinya dimanfaatkan dan berlaku sebagai korban. Aye, mau gimana lagi, mamam tuh!

Bagian mengesankan lainnya dari buku ini, adalah kisah yang diceritakan oleh seorang jurnalis bernama Heron Ryan, yang mengenal Athena dan sempat terjebak perkara mistis dalam perjalannya.

Sebelum mengenal Athena, ia menganggap kelebihan mistis (seperti sihir yang dapat menyembuhkan) hanyalah cara curang untuk mengeksploitasi keputusasaan orang-orang.

Begitu pula dalam perjalannanya ke Transylvania untuk membuat film dokumenter tentang vampir, dianggapnya sebagai salah satu cara untuk membuktikan betapa mudahnya manusia dibodoh-bodohi. Takhayul-takhayul tertentu, betapa pun tidak masuk akal kelihatannya, tertanam dalam imajinasi manusia dan sering kali dipergunakan oleh penipu untuk memperdaya manusia.

Ketika ia mengunjungi Kastil Dracula yang telah direkonstruksi hanya untuk memberi kesan pada para turis seakan-akan mereka berada di sebuah tempat istimewa, ia didekati oleh seorang pegawai pemerintah yang mengatakan bahwa ia akan menerima penghargaan sitimewa ketika film itu ditayangkan di BBC.

Heron Ryan disangka sedang membantu propoganda mitos mereka (Kastil Dracula) dan karenanya pantas menerima pemberian istimewa. Salah seorang pemandu wisata juga menceritakan kalau jumlah pengunjung meningkat tiap tahunnya dan publikasi macam apa pun tentang tempat itu akan selalu berdampak positif, termasuk sebuah program yang berkata bahwa kastil itu palsu.

Perihal keyakinan akan hal-hal mistis, saya teringat status seorang kawan Facebook yang sempat lewat di lini masa beberapa bulan lalu. Alhasil, saya terpaksa mengubek-ubek lagi facebooknya untuk menemukan bagian itu. Wim Poli, pemilik akun itu (yang setahuku, beliau adalah salah satu dosen di Unhas) menulis dengan judul “Fakta dan Keyakinan” yang isinya mengenai keyakinan seseorang yang terbentuk melalui fakta yang dialaminya.

Sekali keyakinan terbentuk maka sukar berubah ketika menghadapi fakta yang bertentangan. Bahkan fakta yang bertentangan itu bukannya mengubah keyakinannya, melainkan mungkin ditafsirkan sedemikian rupa sehingga lebih memperbesar keyakinannya.

Bagian ini juga disertai contoh sejarah. Seperti; Berulang kali terjadi adanya sekte yang meramalkan bahwa dunia akan kiamat pada tanggal tertentu. Para anggota sekte berbondong-bondong melakukan rituan dan pengorbanan begitu mendekati tanggal yang ditentukan. Ketika dunia ternyata tidak kiamat, mereka menganggap ritualnya diterima dan jadi penyebab gagalnya kiamat. Yakali’ kiamat memang belum waktunya.

Di sekitar kita juga banyak takhayul beredar, perihal bencana alam misalnya, banjir di Makassar dan sekitarnya. Oleh kawan-kawan saya malah ramai diguyonkan; Kenapa banjir terjadi? Itu karena Jokowi presidennya. Atau, banjir ini terjadi karena bukan Prabowo presidennya.

Atau, jangan-jangan saya masih jomlo karena presidennya jokowi XD


You Might Also Like

18 komentar

  1. ahseeek! lebih cepat dari tenggat yang kita sepakati. suka!

    ReplyDelete
  2. Menarik caranya Uga merangkai dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Prof Wim Poli itu senior sekali di Unhas, salah satu profesor yang dibanggakan. Menarik ujungnya bahwa fakta yang dialami memperkuat keyakinan bahkan bisa saja dimanipulasi :D

    ReplyDelete
  3. Mauka bilang kalau saya punya dendam pribadi sama Lelaki Bugis, tapi apa di? Kenal baik saja belum, hanya sebatas di dunia maya. Tapi yang bikin saya mau dendam sama dia, adalah tulisannya selalu menggoda hehehe... itu dendamkah? Salam na sama lelaki bugis, kasi tahu dulu nama aslinya bede sama Bunda.

    ReplyDelete
  4. Bahasa yang lugas untuk sebuah resensi buku kak. Jujur saya belum pernah membaca buku karya Pache.Setelah ini saya akan pertimbangkan untuk hunting.

    ReplyDelete
  5. Belum pernah membaca buku dari Paula Celho dan butuh rekomendasi buku apa yang perlu saya baca lebih dahulu untuk bisa jatuh cinta sama buku-buku lainnya. thanks for the review kaaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba mulai dari Sang Alkemis kak untuk jatuh cinta sama Paulo, Tulisannya ringan tapi menakjubkan.

      Delete
  6. Pantesan banyak yang tertarik sama Paulo Coelho ya. Termasuk yang nulis resensi ini. Keren banget cara nulisnya. Suka.

    ReplyDelete
  7. Tunggu dulu... apa maksudnya ini “Tulisan tak mesti bagus, tapi dibelikan buku”? berarti buku ini dibelikan kakak lelaki Bugis atau dibeli sendiri. Atau kah setelah ini Kakak Lelaki Bugis akan mengajak ngedate di Mall dengan alasan beli buku?

    ReplyDelete
  8. selalu suka cara Uga menuliskan sesuatu. entah itu review buku seperti ini atau tulisan lainnya. saya menunggu tulisan berikutnya..

    ReplyDelete
  9. Paulo coelho adlah salah satu penulis luar favorit saya. Sy langsung jatuh cinta sama karya nya sewaktu baca the Alchemist dan The winner stands alone. Smua karya2nya bnyak berbicara tentang hakikat manusia dan makna kehidupan.

    Klo soal buku yg di review diatas sih blum baca. Spertinya bnyak berbicara tentang keyakinan dan persepsi yg dibuat2 manusia. Sungguh sangat menarik.

    ReplyDelete
  10. Beli buku karena sampulnya yang cantik dan tahu penulisnya. Hahha saya banget!

    Sudah begitu, hobinya yaa beli-beli saja dulu. Entah kapan sempat dibaca -_-

    ReplyDelete
  11. Saya suka review bukunya. Kalimatnya terstruktur dan enak dibaca. Btw sy blom pernah baca buku karya Paula Celho.

    Sy suka jalan ke toko buku. Pas ada yg menarik langsung beli tapi kadang nyimpan aja di lemari dan lupa hahahaa

    ReplyDelete
  12. Belum pernah baca buku karya Paula Celho, tapi dari reviewnya kak uga semacam menarik perhatianku dan ingin kubaca sampai habis. Ada rekomendasi bacaan lain yang sejenis ini kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak sih, kalau samara suka novel Fantasi, bisa baca the secret of the immortal nicholas flamel series, punya Michael Scott. Tapi lumayan sih bukunya tebal-tebal dan ada 6 Series.

      Delete
  13. hahaha, kalimat terakhirnya buat saya tertawa, bagi saya itu kalimat orang yang putus asa, sehingga apa-apa semua menyalahkan org lain, terutama yg sedang tren saat ini, nyalahin presiden wkwkw.
    btw soal sihir dan crita-critanya kadang saya bertanya-tanya apakah itu betul pernah terjdi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ditanya soal sihir dan sejenisnya, saya bahkan percaya kalau ibu peri itu beneran ada wkwkwk

      Delete
  14. Sejatinya, banyak kelompok masyarakat kita juga punya cerita tersendiri pada hal-hal mistis. Miasl, Ronggeng Dukuh Paruk nya Ahmad Tohari. Banyak sisi mistis dan kearifan lokal di sana. Dan itu, mampu dirasionalkan oleh si penulis.

    Nah, dalam konteks Buku The Witch of Portobello inilah sebenarnya itu kisah biasa. Namun penulis mengemas dengan bahasa apik dan menarik. Hanya saja, jika buku itu buku terjemahan, memang banyak kekurangannya.

    Namun, usaha untuk mengulas serta meresume buku tersebut wajib saya apresiasi.
    Semoga saya bisa menulis atau mengulas buku-buku yang saya punya.

    Salam dari anak desa, Mba Reskiani...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, salam balik dari pemilik blog pribadi ini :)

      Juga, terimakasih untuk apresiasinya. Dan oh yah, kalau mau menemukan "sensasi membaca tanpa direcokin org lain" bagusnya baca saja bukunya, jangan baca cerita org yang membaca buku itu, karna bertendensi sesuai "selera reviewer" nanti hahahha.

      Seleranya bisa begini juga loh contohnya: Buku The Witch of Portobello itu bukan kisah sesederhana yang "bisa bikin penulisnya sampe berniat membuat biography tapi takut penilaian pribadi yang subjektivitasnya sudah diminimalkan bahkan dihilangkan tapi tetap bisa memengaruhi hasil tulisan", nah kan, sesuai sekali sama "selera" saya hahhaa.

      Delete