Monik: Proyeksi Keadaan Anak Pulau dan Pelosok

January 15, 2019



Pic by: Bintang

Tak begitu jauh dari tempat tinggal saya ada bank sampah. Tepat di area trotoar jalan yang kadang sampahnya merembes hingga ke bahu jalan. 

Hari itu pagi menjelang siang. Saya menyempatkan sedikit berputar untuk membuang sampah yang saya bawa dari rumah sebelum bersekolah. Begitu saya menepi hendak menurunkan kantong plastik hitam berisi sampah, dua anak lelaki berlarian ke arah saya. Menghambur ke arah kantong plastik di tangan saya dan membawanya ke tumpukan sampah.


Saya menaksir usianya kisaran delapan dan sembilan tahun, berkeliaran di sekitar area bank sampah di hari sekolah. Apakah mereka tidak bersekolah? Saya tidak sempat menanyakannya lalu pergi. Tapi dengan melihat mereka bermain di sana— Entah  benar-benar bermain atau ada yang menyuruh mereka menggantikan pekerjaan di sana— Cukup membuat saya menduga keras anak-anak itu tidak bersekolah, ditambah lagi ini bukan kali pertama saya melihat anak-anak itu berkeliaran di sekitar penampungan sampah sementara itu.



Melihat anak-anak itu, saya teringat Monik. Anak perempuan berusia sembilan tahun yang saya temui dua tahun lalu di pulau Badi, sebuah kepulauan di Pangkep yang sudah pernah saya ceritakan di sini. Dengan menyandang tas punggung yang berisi buku dan alat tulis, Monik beserta kawan-kawan sebayanya menemani kami berkeliling di sepanjang tepian pantai pasir putih yang elok.



Bocah kurus berambut lusuh khas anak pesisir yang kerap terpapar terik cuaca pantai itu sudah menduduki bangku kelas tiga di satu-satunya Sekolah Dasar di pulau Badi. Namun belum pandai membaca. Ia bahkan belum fasih mengenali semua huruf alfabet. 

Selain Monik, juga banyak anak-anak sebayanya yang tak pandai membaca. Saya sempat menduga mungkin ia malas bersekolah atau karena terlalu gemar bermain, namun setelah lebih banyak mengobrol saya jadi tahu dugaan saya meleset.




Monik adalah bocah yang cukup menarik bagi saya, ia ramah pada pendatang seperti kami, dan amat mudah akrab serta gemar bercerita. Perihal sekolah, Monik menceritakan lebih banyak setelah kami sudah lebih lama bersamanya. Di sekolah ia hanya berkesempatan bertemu guru enam hari dalam sebulan, dan sisanya ia tak tahu lagi. 

Menurut Monik, ia bersekolah atau tidak, orang tuanya tidak begitu peduli, nyaris ia tak pernah ditanyai perihal sekolah oleh orang tuanya, apalagi protes soal guru yang jarang datang untuk mengajar mereka di sekolah. Dengan alasan yang sama pula Monik dan kawan-kawannya juga terkadang menjadi malas bersekolah.




Monik, hanyalah salah satu proyeksi dari korban kesenjangan kesempatan anak-anak pelosok dan pulau terpinggir, mereka tidak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan sebagaimana standar layak yang kerap kita temui di kota. 

Bagaimanapun saya melihat Monik dan kawan-kawannya bukanlah anak malas yang enggan belajar, hanya saja mereka tidak mendapatkan pengawasan yang telaten dari orang tua dan lingkungan sekolahnya. Terbukti ia begitu antusias membawa serta peralatan belajarnya dalam tas punggung yang kebesaran saat menemani kami berkeliling pulau. Ia juga sama antusiasnya saat Bintang mengumpulkan anak-anak pulau untuk diajak berbagi cerita dan diajari baca tulis di depan rumah salah seorang warga pulau.




Perihal kesenjangan kesempatan saya meminjam istilah kawan lama saya yang kerap saya sapa Paol, sering kali saat jam istirahat atau sedang tak ada yang kami kerjakan, ia kerap bercerita dengan berbagai topik, mulai dari teori kupu-kupu hingga trik yang selalu ia gunakan untuk menarik perhatian gadis-gadis sekalipun ia mengakui dirinya tak tampan, tapi kesempatan selalu berpihak padanya. Begitulah ia kerap membela diri. 

Seperti biasa, saat ia bercerita selalu meluas ke banyak topik, hingga soal kesenjangan kesempatan.




Menurut analisanya, yang paling memprihatinkan di Indonesia adalah soal ketimpangan sosial dikarenakan kesenjangan kesempatan. Katakan saja dalam dunia pendidikan yang menjadi penentu nasib dan masa depan seorang anak, yang ia mulai dengan persoalan gizi, makanan hingga strata sosial.

Taruhlah anak  yang bersekolah di tempat yang sama namun satu anak makan nasi dan yang lain singkong, secara kualitas gizi sudah akan berbeda. Sarapan sebelum berangkat sekolah katanya memiliki andil yang besar terhadap kenyamanan dan konsentrasi belajar anak di kelas, entah ia hanya mengada-ada atau memang pernah melakukan penelitian soal itu.



Tidak hanya berhenti di situ, anak yang berkesempatan bersekolah di kota dan yang di desa hasilnya jelas akan beda, dikarenakan jangkauan informasi yang tak sama luasnya, belum lagi soal ketersediaan fasilitas yang sudah pasti akan beda. Bahkan di sekolah yang sama pun, anak yang satu dengan anak yang lain juga akan tetap mengalami kesenjangan kesempatan. 

Anak yang orang tuanya berada di kelas ekonomi menengah ke atas misalnya, memiliki lebih banyak akses terhadap pengetahuan, dapat membeli lebih banyak buku pelajaran ketimbang anak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah. Secara kesempatan dan hasil mereka tentu akan berbeda.



Esok jika mereka sama-sama melamar pekerjaan di tempat yang sama, anak yang memegang ijazah lulusan sekolah ternama cenderung akan diprioritaskan daripada mereka dari sekolah di desa. Kesimpulan Paol, yang mengkonstruk nasib mereka bukan semata-mata usaha dan keberuntungan melainkan kesempatan, dan yang menjadi persoalan besarnya adalah kesenjangan kesempatan itu, yang membuat posisi si anak kaya akan terus berada di garis yang sama dengan orang tuanya dan begitu pula sebaliknya.

Sebagian kalangan menjadi tidak mudah mengubah garis keturunan, dan sebagiannya hanya melestarikan garis keturunan.


Paol sering kali bercerita dengan penuh kebanggaan, seperti hari itu. Sembari membelalakkan mata ke arah saya. Saya tertawa, sepertinya saya tahu pemikiran itu terinspirasi dari mana.

Thanks Paol.



You Might Also Like

28 komentar

  1. Saya punya teman yg bertugas sbg guru di salah satu pulau di Pangkep. Dtg kesana cuman sekali dlm 3 bulan. Dalam hati sy berpikir," gimn anak2 disana bisa bisa belajar ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya terkendala jarak juga kak yah, kalau guru-gurunya berasal dari luar pualau yang datang cuman sesekali.

      Delete
  2. saya jatuh cinta pada foto pembuka, lalu makin jatuh cinta saat membaca paragraf demi paragraf. suka pake banget tulisan ini.

    Btw, Uga masih sekolah? SMA gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau tau buket atw tau isi, kak? Wakwkak..

      Delete
    2. Sama saya iyya oppa, nda jatuh cinta jaki? XD wkwkwkkw.. tapi untunglah jatuh cintaji, nda dapatma semburan hohoho

      Delete
    3. Tahu tek kayaknya itu kak Ery yang namaui oppa XD

      Delete
    4. @Uga Tadi sih jatuh cinta ma sama Uga tapi karena saya kira masih SMA jadi takutka dikira pedofil karena jatuh cinta sama anak SMA :D

      @MamERy saya suka yang bulat-bulat, Mam :D

      Delete
  3. Semoga pemerintah lebih peka dan memperhatikan anak-anak pulau, menyediakan ruang untuk mereka bisa belajar, serta meningkatkan edukasi kepada orangtua mereka bagaimana pentingnya pendidikan untuk masa depan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Edukasi untuk orang tua murid juga sama pentingnya yah kak, karena rata-rata di tempat-tempat serupa, orang murit cenderung apatiski sama urusan pendidikan. malahan dulu ada yang cerita gini "Sekolah tidak sekolah anaknya, hasilnya sama saja. jadi mending diajari bekerja sedini mungkin. karena selepas sekolah pun akan kesulitan cari pekerjaan".

      Delete
  4. Selama saya mengikuti Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa, pendidikan memang menjadi salah satu sorotan. Semoga ke depannya ada format yang lebih baik sehingga penyamarataan pendidikan bisa dilangsungkan. Paling tidak pendidikan yang berbasis kemampuan atau bakat alami sehingga dampak salah jurusan bisa diminimalkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak, tapi sepertinya untuk wilayah-wilayah pelosok yang masih sulit dijangkau kebanyakan mengalami hal yang serupa.

      Delete
  5. Yah, harusnya anak-ank di Pulau juga bisa mendapatkan pendidikan yang layak..Ini mi kayaknya yang di share teman kuliahku di group Whatsapp minggu lalu bahwa ada loker di kepulauan Pangkep. .Siapa mau ke sana mengajar. .😬😬😬

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, saya juga dapat info kemarin ini, malah hampirka ke sana jadi relawan hahah. Tapi sayangnya tidak jadi itu program, entah terkendala di apanya. Sepertinya pemerintah cukup kewalahan mengurusi itu.

      Delete
    2. ada program The Floating School-nya Kak Nunu (Ketua AM) yang tiap pekan ke pulau-pulau di Pangkep untuk mengajar anak-anak di sana. Mungkin Uga bisa daftar di sana.

      Delete
  6. Dibalik ada atau tidaknya kesempatan ada satu hal yang bisa mengubah hal ini. hal itu bernama motivasi. Sudah banyak contoh mengenai hal ini.Bagaimana mereka yang hanya memiliki secuil kesempatan namun bisa mengubah keadaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari sudut itu, benar sekali kak. Makanya banyak teman-teman dari kelas inspirasi yang sesekali mengunjungi anak-anak di pelosok, datang jauh-jauh hanya sekedar untuk berbagi cerita bahkan. Untuk memotovasi dan menginspirasi anak-anak :)

      Delete
  7. Ironi pendidikan di Indonesia.
    Di Papua, hal yang sama juga gampang sekali ditemukan. Anak-anak yang harus jalan berkilo-kilo meter naik turun gunung hanya untuk sekolah, atau yang terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada guru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah apalagi di papua di" Daeng, masih banyak anak-anak yang susah mengakses pendidikan. belum lagi medannya kalau temtat-tempat terpencil dan pelosok.

      Delete
  8. Maka bersyukurlah kita yag bisa mengenyam pendidikan dan hidup lebih layak di tengah masyarakat.

    ReplyDelete
  9. Kita yang di kota ini mesti banyak bersyukur karena semuanya serba mudah, serba praktis. Fasilitas lengkap. Berangkat sekolah pun gak jauh-jauh amat, meskipun jauh juga ada kendaraan.

    Saya jadi ingat dengan murid-murid yang saya kenal di SDN 1 Sajang. Sebuah sekolah yang terletak di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Ada 7 murid yang luar biasa semangatnya di sana. Kenapa saya katakan begitu? Karena mereka harus menempuh perjalanan sejauh 14km (pulang pergi) untuk bersekolah.

    Mereka semua tidak pernah terlambat, tidak datang ke sekolah hanya saat benar-benar sakit. Saya bersama teman-teman komunitas Sahabat Sajang pernah mencoba melalui jalan yang mereka tempuh. Tapi belum sampai 7km, kami sudah menyerah.

    Sudahlah jauh, ekstrim pula. Harus keluar masuk hutan, naik turun bukit, menyebrangi sungai beraliran cukup deras dengan bantuan bilah bambu (karena tidak ada jembatan), plus melewati berbagai jenis jalan...dari yang berbatu-batu dan gersang, yang penuh dedaunan namun licin, yang becek..semuanya ada. Dan jalanan ini mereka lewati setiap Senin sampai Sabtu. Ckckck..luar biasa bukan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Luar biasa sekali kak, justru kesulitan-kesulitan tu yang buat mereka termotovasi dan semangat bersekola. Justru kadang kita yang sudah terhitung enak, mudah dalam segala malah jadi malas dan kalah semangat dengan mereka-mereka.

      Delete
  10. Sukaaa sama tulisan Uga.
    Ya, kesenjangan itu ada.
    Dan sedihnya, berapa banyak anak pulau yang merantau dan berhasil mau kembali membangun pulaunya?

    Di sebuah forum Sulsel yang saya hadiri, seorang pemuda, mengaku anak pulau mengkritik pemerintah tentang keadaan pulaunya.

    Tetapi ketika moderator bertanya, apakah dia akan kembali untuk membangun pulaunya, dia tak memenjawabnya.

    ReplyDelete
  11. Bagusnya mungkin di buka untuk relawan supaya bisa mengajar anak2 di sana kak di, saya bersedia kalau ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kak, banyak komunitas yang mengajar yang biasa kunjungi mereka. Kayak Lentera Negeri, Sokola Kaki Langit, Sekolah Alam dll, dan mereka terima volunteer buat visit dan ngajar di pelosok. Dlu ada programnya pemerintah pangkep kirim tenaga pengajar ke pulau-pulau, tapi nda tau jadi jalan programnya atau nda itu. Tapi dulu sudah semoat rame dan bandan banyak yg minta.

      Delete
  12. Kita yang berkecukupan, malah kadang menyepelekan semua fasilitas yang didapatkan, sedangkan di seberang sana, banyak orang yang memimpikan berada di tempat kita, sekadar mendapatkan informasi pengetahuan yang update.

    Semoga ke depan, pendidikan kita bisa merambah semua penjuru pulau, tantangan bagi negara kita yang teraebar di banyak tempat/pulau.

    Mantap kak tulisannya, salam sama Monik kalau ketemu lagi

    ReplyDelete
  13. Anak-anak di pulau ternyata sampai segitunya ya kak. Saya sering mendengar kabar seperti ini namun hanya sekedar angin lalu karena belum ada kesempatan untuk mengetahui lebih dalam. Membaca ini, membuat diri lebih termotivasi untuk memanfaatkan fasilitas dan akses yang ada untuk belajar dan meningkatkan potensi diri 😍

    ReplyDelete