CROWDE & PANENMART Ekosistem Berkelanjutan Untuk Pertanian Indonesia

1:45 AM


Ada yang menarik perhatian saya di momentum Hari Tani Nasional pekan lalu, pengenalan platform permodalan petani dengan misi membantu petani yang membutuhkan modal untuk memulai pertaniannya atau untuk melengkapi peralatan tani yang dibutuhkan untuk menggarap lahan pertanian.





Tepatnya, pada rabu 26 September (2 hari pasca penetapan tanggal yang menandai Hari Tani Nasional 2018) di Pisa Cafe, team Crowde beserta Panenmart bersama-sama memperkenalkan konsep yang mereka usung untuk menciptakan ekosistem berkelanjutan untuk pertanian indonesia dan upaya penyejahteraan petani indonesia.

Menariknya lagi, gagasan tersebut dibangun oleh para pemuda Indonesia yang prihatin terhadap kondisi pertanian di Indonesia di masa kini. Di mana persoalan pertanian menjadi masalah yang cukup serius sekaligus juga paling banyak diabaikan. Dari tahun ke tahun tak banyak lagi yang tertarik dengan aktifitas pertanian.

Padahal, Indonesia terkenal sebagai negara agraris, pertanian menjadi industri kedua terbesar yang menopang perekonomian. Kebergantungan masyarakat Indonesia terhadap pertanian cukup besar, 41% populasi di Indonesia hidup untuk dan dari industri pertanian, seperti petani, pedagang, konsumen produk pertanian secara langsung maupun tidak langsung.

Afifah Urfani tengah memperkenalkan Crowde

Afifah Urfani, selaku Head Of Marketing Crowde memaparkan bagaimana kondisi pertanian Indonesia saat ini. Regenerasi petani stuck sejak 10 tahun belakangan, dan faktanya, 60.8% petani Indonesia sudah berumur 45 tahun, jika dihitung umur rata-rata orang Indonesia 60-70 tahun, yang artinya, bila tanpa regenerasi 20 tahun mendatang siapa lagi  yang akan bertani? Karena faktanya, anak petani saja tidak di-empower untuk jadi petani. Pernyataan-pernyataan seperti “Kamu jangan jadi petani nak, harus lebih baik dari bapak dan ibu” sangat lumrah, padahal apa yang salah dengan jadi petani? Yang salah adalah ekosistemnya, di mana petani selalu menjadi pihak yang paling banyak effort-nya tapi mendapat hasil yang paling sedikit, sehingga sangat sulit bagi petani mencapai kesejahteraan.

Belum lagi fakta bahwa semakin berkurangnya lahan pertanian di indonesia, dan banyaknya petani yang mengeluhkan modal pertanian yang sulit, ditambah lagi hasil pertanian dijual dengan harga relatif sangat murah dan tak menentu harganya. Di sinilah Crowde mengambil ruang untuk membantu permodalan petani untuk memulai menggarap lahan pertaniannya dan Panenmart yang akan membantu mendistribusikan hasil pertanian pada konsumen.

Mari kita lihat bagaimana sistem kerja Crowde dalam membantu permodalan pertanian Indonesia.

Crowde, Platform Peer to Peer (P2P) Landing untuk permodalan Petani

Crowde adalah perusahaan layanan keuangan berbasis teknologi (fintech) yang menyediakan platform Peer To Peer (P2P) Lending. Dengan menggunakan metode crowd-lending, Crowde mengelola dana investor yang kemudian disalurkan ke beragam proyek usaha tani. Bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia dengan memberi kemudahan untuk mengakses permodalan serta menciptakan ekosistem berkelanjutan di bidang pertanian.

Profil pertanian yang membutuhkan permodalan



Permodalan pertanian Crowde berasal dari investor (Siapa saja bisa berinvestasi mulai dari Rp. 10.000) dan Crowde memberi jaminan akan sarana investasi yang aman dan terpercaya karena telah terdaftar dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, Crowde berperan sebagai jembatan yang menghubungkan antara petani yang membutuhkan modal dengan investor yang menanmkan modalnya.

Jadi model investasinya seperti arisan, siapa saja boleh ikut memodali (secara gotong royong) satu sektor pertanian yang profilnya telah lengkap di aplikasi Crowde (Mulai dari Jumlah modal yang dibutuhkan, lama proses permodalan, persentasi keuntungan serta risisko inverstasi).

Crowde pertama kali berdiri di tahun 2015, dan hingga saat ini telah merangkul 10.000 petani Indonesia dan 23.000 investor, dan masih akan terus bertambah. Di masa depan, di tahun 2045 saat populasi di Indonesia menjadi 5 kali lebih banyak dari masa sekarang, Crowde dapat membantu pertanian menjadi produsen bahan makanan utama di Indonesia dengan ekosistem yang berkelanjutan. Crowde memiliki visi untuk menjadikan petani sebagai Agropreneur yang mandiri dan bisa mengkreasikan produk turunanya untuk tetap bersaing di pasar tanpa kehilangan nilai jual.

Hal penting lainnya, sistem permodalan pertanian yang dilakukan oleh Crowde ini menggunakan metode zero cash, yang mana petani tidak akan langsung menerima bantuan dalam bentuk kas tunai, melainkan Crowde akan bekerja sama dengan toko tani di seluruh Indonesia yang akan mempermudah petani mendapatkan akses kebutuhan pertanian. Jadi petani hanya akan meneima bantuan berupa kebutuhan pertanian, sepeti bibit, pupuk, obat-obatan serta kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut kalian bisa langsung mengunjungi situs Crowde atau download aplikasinya di Play Store atau App Store di Smartphone kalian.

Cara Mendapat Permodalan Pertanian Dari Crowde

Semua petani Indonesia dapat mengakses bantuan permodalan, dengan syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Crowde. Dan para petani yang bergabung di Crowde juga akan mendapatkan edukasi seputar pertanian juga akan diajari cara membuat skema pembiayaan.

Syarat untuk medapatkan bantuan modal pertanian cukup mudah, yakni petani, memiliki lahan garapan, akan lebih mudah lagi mendapat permodalan pertanian jika diajukan secara berkelompok.

Jadi, petani yang telah mendapatkan permodalan dari Crowde dapat memulai pertaniannya berdasarkan skema pembiayaan yang telah diajukan sejak awal, dan akan dipantau perkembangannya hingga masa panen tiba oleh Crowde.

Selain bekerja sama dengan toko tani, crowde juga menjalin kerja sama dengan off taker yang akan membantu petani menjual hasil pertaniannya di musim panen tiba. Salah satuya adalah Panenmart.

Lebih Dekat Mengenal Panenmart

Panenmart adalah platform berbentuk startup, yang membantu petani mendistribusikan hasil pertaniannya secara langsung kepada konsumen. Panenmart masuk bersama jejaring Crowde dan membantu petani dalam usaha memutus rantai distribusi berlapis-lapis yang kerap mempermainkan harga hasil pertanian (dibeli dari para petani dengan harga yang sangat murah dan dijual ke konsumen dengan harga yang relatif mahal, sehingga mengakibatkan harga hasil pertanian jadi flukluatif).

Permasalahan-permasalahan tersebutlah yang coba diselesaikan oleh panenmart dengan memutus rantai distribusi yang bahkan hingga empat lapis. (Pengepul-tengkulak-pasar induk-pasar kota/konsumen).

Gagasan Panenmart bermula dari permasalahan-permasalah harga hasil pertanian yang tidak stabil, dan posisi petani yang kerap tidak adil. Seperti yang dijelaskan oleh Yasril Adipura (Acil) sebagai perwakilan Panenmart.


Acil, tengah memperkenalkan Panenmart sekaligus menceritakan pengalamannya mendirect petani untuk menjual hasil pertaniannya.

Acil juga menceritakan masalah yang banyak ditemui Panenmart di lapangan, rantai sitribusi dari petani sampai ke konsumen berlapis lapis, sehingga menyebabkan harga jual untuk produk pertanian jadi flukluatif atau tidak stabil. Selain itu, harga beli produk hasil pertanian dari petani relatif terlalu murah kemudian harganya menjadi berlipat-lipat kali lebih mahal begitu sampai ke tangan konsumen.

Hal itu terjadi karena pendistribusian produk hasil pertanian melalui hingga empat layer rantai distribusi, sebagaimana yang diceritakan Acil “Kasus yang ditemukan di sulawesi selatan khususnya di Makassar, layernya bisa sampai empat, dari petani kemudian dibeli oleh oleh pengepul atau tengkulak langsung, setelah itu ke tengkulak lagi lalu ke pembongkaran 1, yang terdapat di beberapa titik, setelah itu masuk lagi ke pasar induk dan terakhir ke pasar kota. Sehingga harga jualnya menjadi semakin mahal sekalipun harga belinya dari petani langsung relatif sangat murah.

Permasalah inilah yang coba diatasi oleh panenmart, sebagai usaha yang berbentuk startup yang mempertemukan langsung antara pertani dengan konsumen dengan metode direct selling  sehingga dapat menjaga kestabilan harga.

Kerja sama yang apik antara Crowde dan Panenmart, Crowde membantu petani dalam hal permodalan untuk memulai pertaniannya, dan begitu masa panen tiba, Panenmart yang kemudian membantu menghubungkan petani dengan konsumen yang akan membeli hasil pertanian.


Kalian bisa langsung membeli via online, di situs Panenmart atau mengunduh aplikasinya di Play Store dan App Store di Smartphone kalian.







Menarik sekali, saya jadi tak sabar ingin segera pulang ke rumah dan menanam seledri.

You Might Also Like

7 komentar

  1. Kalo lihat harganya di aplikasi Panenmart, murah-murah tawwa. Kalo di pasar toh hadeh, bisa itu tomat naik jadi 15 ribu rupiah per kilo gram. Gara-gara naik-naik mi dulu baru sampai ke penjual di pasar.

    BalasHapus
  2. Oo jadi PanenMart ini kayak aplikasi market place yang bisa digunakan petani ya. Trus untuk fintech untuk investasinya ada aplikasinya juga nggak ?

    BalasHapus
  3. Betul banget petani Indonesia paling sedih krn bekerja keras namun sedikit yang mereka hasilkan. Semoga dengan adanya sistem yang dibuat Crowde petani Indonesia bisa jadi lebih maju dan sukses ^_^

    BalasHapus
  4. Waahh... kereen nih starupnya. Petani bisa meningkatkan hasil produksi pertaniannya dong ya

    BalasHapus
  5. Semoga dengan adanya aplikasi CROWDE ini, petani di Indonesia semakin maju dan sejahtera.

    BalasHapus
  6. Iya dih, petani selama ini dianggap sebagai profesi yang tidak membanggakan. Padahal kalau ndak ada petani, kita mau makan apa? Semoga dengan CROWDE & Panenmart ini petani Indonesia bisa semakin maju dan sejahtera.

    BalasHapus

  7. Wow luar biasa visi Crowde ini, "menjadikan petani sebagai Agropreneur. Sukaku lihat anak muda yang kreatif dan cerdas kayak Afifah Urfani.

    BalasHapus

Like us on Facebook