Dare To Change - Sophie Paris Regional Conferrence 2018

6:22 AM


Tidak terasa yah, sudah September lagi, sudah hampir memasuki pertengahan September malah. Saya selalu merasa semakin berlomba-lomba dengan waktu, dan nyaris selalu kalah. Hahah. 

It’s okay, itu tidak terlalu penting. Meskipun saya masih selalu komplain kalau 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, rasanya masih terlalu kurang untuk mengerjakan semua planning yang sudah saya susun dengan tidak rapih.

Semua hal menjadi serba cepat, hampir tidak banyak waktu untuk berjalan-jalan di pusat perbelanjaan yang rame dan membosankan, belum lagi harus menempuh perjalanan yang selalu macet lalu mengantri di kasir. Tapi berbelanja juga menjadi aktivitas krusial, saya butuh berbelanja even for treat my self misalnya, memperbaiki mood. 

Demi semua rentetan skenario yang menghabiskan banyak waktu itu, saya benar-benar merasa sangat terbantu dengan model belanja online, yang bisa saya lakukan di mana saja dan kapan saja. bahkan sambil tiduran di rumah.

Nah, pas dengar kabar Regional Conferrence Sophie Paris, saya sudah girang duluan. Ditambah lagi kehadiran Bruno Hasson, yang biasanya hanya saya dengar dari cerita teman-teman yang sudah pernah bertemu.

Sabtu, 8 September kemarin, Sophie Paris menggelar Regional Conferrence super meriah, yang berlangsung tepat pukul 13.00 di Makassar, tepatnya di Hotel Sahid Jaya.

Regional Conferrence 2018, dengan tema Dare To Change itu, meurupakan seminar terbesar Sophie Paris sekaligus rekognisi bagi lebih dari 100 member yang telah mencapai program Sophie Paris Leaders Club (SLC).

Seminarnya dihadiri oleh CEO sekaligus Founder Sophie Paris Indonesia, Bruno Hasson dan Gregory Fauvet selaku EVP Sales and Marketing dan juga Deasi Rahayu selaku TOP BC and Leader Indonesia. 

Di seminar itu, Sophie Paris juga memperkenalkan pola marketing baru yang 100% online. Kalau yang kita kenal selama ini, marketing Sophie Paris dilakukan dengan sistem penjualan langsung, menggunakan katalog yang memudahkan customernya dalam memilih barang yang diinginkan, dan juga offline store yang menyebar di mana-mana. Kalau mau belanja bisa datang ke store-nya langsung. Atau kalau barang tidak tersedia di store bisa pesan sama member yang jadi bagian dari sistem Multi Level Marketing (MLM) atau mengunjungi situs Sophie Paris, ini sih bagian favorit saya, karna saya lebih prepare belanja online.

Namun sekarang, Sophie Paris melakuan terobosan baru, yang 100% online, untuk memudahkan dan memberikan sensasi menyenangkan dalam berbelanja dengan menggunakan QR Code atau barcode yang dapat di scan dan akan otomatis mengantarkan ke situs belanja milik Sophie paris. 

Istmewanya lagi, tiap item dalam katalog sudah dilengkapi QR Code, jadi bisa langsung di-scan menggunakan aplikasi scanner atau melalui aplikasi Facebook mobile dan langsung terhubung ke item yang diinginkan. Jadi belanjanya lebih mudah.

Selain itu, Sophie Paris juga mengadakan program dan promo-promo menarik. Sering-sering saja scan QR Code yang ada di katalognya. 

Bloger Makassar

Regional Conferrence 2018

Mega seminar Sophie Paris berlangsung sangat meriah, dihadiri ratusan peserta, yang terdiri dari SLC, member, media, bloger dan selebgram.
Dibuka dengan tari kipas, rangkaian acaranya juga seru. Mulai dari kuis, lempar-lempar hadiah, undian, dan doorprize, hingga sambutan-sambutan, dan fashion show.


Tapi bagian paling menariknya adalah, ketika Bruno Hasson, yang menceritakan kiat sukses, bagaikan paradigma gunung es, yang secara kasat mata bagian atas gunung terlihat menjulang tinggi, padahal bagian gunung es yang menancap ke bawah tanah jauh lebih besar dari yang dapat terlihat mata. 

Dengan kata lain, ada banyak hal yang harus dilalui untuk menjadi sukses, apa yang dilihat orang sebagai hasil, tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan apa yang tak terlihat sebagai usaha kita. Di balik sukses yang terlihat ada berbagai upaya. Fokus, kerja keras, kebiasaan baik, bahkan hingga kecewa, kata Bruno Hasson.

Sophie Paris tidak serta merta mendulang sukses bergitu saja, perjalanan bisnis Sophie Paris dirintis dari nol dengan modal 5 buah tas beserta berbagai pengalaman penolakan, hingga Sophie paris berkembang kini dan telah berhasil menjual lebih dari 50 juta tas. Dan dapat bertahan lebih dari 20 tahun dengan tiga motto, yakni Brand, Quality, dan Creativity. Selain itu Sophie Paris juga selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

Selain tas, Sophie Paris juga sudah punya berbagai varian produk, mulai dari kosmetik, parfum, aksesori, jam tangan, sepatu, aneka pakaian dan produk Sunday (peralatan rumah tangga dan perlengkapan dapur).

Sekilas Tentang Sophie Paris

Siapa yang menyangka kalau Sophie Paris atau yang juga dikenal dengan sebutan Sophie Martin. (Apa Bedanya?) yang sekarang tengah banyak diminati para pecandu fashion, berawal dari industri rumahan yang dikerjakan oleh tiga orang tukang jahit yang bekerja di loteng rumah sejak tahun 1995?!

Yah, Sophie Paris awalnya hanya dikerjakan oleh tiga tukang jahit. Membuat tas-tas cantik, kemudian mampu mencuri banyak perhatian. Untuk menyiasati penjualan Bruno Hasson menerapkan Direct Selling yang memanfaatkan tenaga penjual yang diberi insentif atas penjualan produk Sophie Martin. Selanjutnya Sophie Martin dipasarkan dengan sistem MLM hingga makin banyak mitra sebagai perpanjangan tangan untuk memasarkan produknya hingga ke pelosok-pelosok nusantara.

Sophie Martin dan Sophie Paris?

Awalnya saya juga sedikit bingung, ini brandnya Sophie Martin atau Sophie Paris?! Atau Sophie Martin yang sudah berubah nama menjadi Sophie Paris, tapi saya masih sering menemukan brand Sophie Martin juga. Mereka sama atau beda?

Nah dalam Press Conference, Bruno Hasson sempat menjelaskan sola ini, ditambah dengan googeling seputar sejarah Sophie Paris. Sophie Martin dan Sophie Paris adalah Brand yang sama, sama-sama milik Bruno Hasson dan Istri, Sophie Martin. 

Press Conference, (Dari kiri ke kanan) Gregory Fauvet, Bruno Hasson, DeasiRahayu, Media dan Bloger.

Sudah bisa ditebak kan? 
Awalnya, judul katalognya adalah Sophie Martin, diambil dari nama istri Bruno Hasson, yang seorang desainer handbag berkebangsaan Prancis. Kemudian judul katalognya diubah jadi Sophie Paris dengan alasan: Paris sebagai ikonnya. Tapi Sophie Martin tetap menjadi salah satu merk produk. 

You Might Also Like

5 komentar

  1. Yang saya suka di acara Sophie seperti ini, mendengarkan motivasi dari Pak Bruno, Mbak Deasy, dan Pak Gregory. Bisa diterapkan di mana saja :)

    BalasHapus
  2. Bahagianya saya bisa hadir disana bersama orang-orang sukses dan yang ingin sukses kak

    BalasHapus
  3. Ada juga yang tanya soal Sophie Martin dan Sophie Paris, ya waktu press conference. Yang jelas merek ini memang sudah kita kenal lama. Hanya saja kayak pernah tenggelam sebentar trus muncul lagi, bahkan sekarang sudah online sepenuhnya

    BalasHapus
  4. Bagus lah ya sudaj 100% online. Dulu jaman tahun 90an saya join.masih offline, jadi harus ke kantornya untuk belanja

    BalasHapus
  5. Wih kerennya di, nama istrinya diabadikan sebagai nama brand. Kapan ya nama saya juga dijadikan brand?

    Dawiah Panci, mungkin?

    BalasHapus

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe