Nostalgia Pesona Bahari Pulau Badi

11:39 PM


Sudah sejak lama, saya ingin bercerita tentang perjalanan. Tapi belum pernah ke mana-mana sejak beberapa waktu belakangan ini.

Gairah berceritanya disulut seorang kawan yang berada jauh. Di Lombok. Semoga kelak saya berkesempatan berkunjung ke sana. Atau si kawan kembali berkunjung ke kota kami. Serta tagihan beruntun dari kawan saya Bintang.

Kukatakan: Di Sulsel juga banyak pulau yang indah. Sekaliber tiruan surga yang sengaja dicipta di bumi. Supaya penduduk bumi tak bosan. Salah satunya adalah Pulau Badi.

Saya hanya tengah menerawang ingatan-ingatan di hari itu. Tepatnya 17 Oktober 2015, saya beserta empat orang kawan lainnya mengunjungi pulau Badi. Masing-masing kami berangkat dengan misi utama yang berbeda. Namun setidaknya dengan satu harapan sebagai bonus perjalanan yang sama, berlibur. Hanya petunjuk itu yang saya ketahui sebelum perjalanan dimulai.

Bintang, kawan yang sudah saya kenal sejak beberapa tahun lalu mengajak saya mengunjungi pulau Badi. Mau snorkeling katanya. Di pulau Badi pemandangan bawah lautnya cukup indah. Kita juga bisa menikmati ikan-ikan segar tangkapan para nelayan.

Malam sebelum keberangkatan, saya hanya dipesan untuk membawa beberapa pasang pakaian yang nyaman. Kami akan menginap semalaman di sana. Rute perahu hanya sekali sehari: Berangkat di siang hari sekira pukul 13.00 dan pulang di jam yang sama esok harinya. Lagi pula memang harus menginap. Tidak akan sempat jika harus pulang di hari yang sama.

Ini adalah perjalanan pertama saya ke pulau. Dimulai tanpa banyak pertanyaan, sebab tahu betul bagaimana Bintang sudah sejak lama berkunjung ke banyak pulau di sulawesi selatan. Sejak ia bergabung dengan komunitas Lentera Negeri. Ia kerap mendatangi pulau-pulau terpencil untuk sekedar berbagi cerita dengan anak-anak usia sekolah di sana, juga mengajari mereka baca tulis jika sempat.

Sekalipun saya baru diberitahu rencana perjalanan di malam harinya, sebelum berangkat keesokannya. Mengetahui kami akan berangkat berombongan beserta kawan perempuan yang juga ikut bersama kami, saya cukup lega. Bintang dan kawan-kawannya pasti sudah punya persiapan matang untuk ini. Paling tidak soal transportasi dan penginapan sudah mereka urus.

Meskipun saya sempat khawatir juga hari itu. Kalau-kalau ternyata itu bukan liburan, tapi kegiatan komunitasnya. Untunglah kata Bintang hari itu memang ada agenda komunitas dan beberapa volunteer akan berkunjung ke pulau Badi untuk agenda bulanan.Volunteer dari komunitas mengajar Lentera Negeri punya agenda bulanan: Mengunjungi pulau secara random untuk berbagi pengalaman, cerita dan ilmu pada anak-anak yang bermukim di pulau.— Tapi untuk kami berbeda. Ini hanya sekedar jalan-jalan biasa.

Yang menginisiasi liburan sebenarnya bukan Bintang. Iccang, salah satu teman yang bersama kami lah yang punya inisiatif itu. Kebetulan dia hendak mengambil GPS yang ia titipkan beberapa bulan lalu di sana. Iccang juga sudah mengenal baik pulau itu. Setelah sebelumnya melakukan PKL di sana. Dia mahasiswa Unhas jurusan perikanan, memilih pulau Badi sebagai wilayah penelitian singkatnya. Dia sudah mengenal beberapa penduduk pulau. Tahu harus menghubungi siapa untuk membawa kami menyeberangi lautan menuju pulau Badi.


Pelabuhan Paotere menjadi titik pertemuan kami hari itu. Tepat sehabis Zuhur kami sudah harus berkumpul di sana jika tak ingin ketinggalan perahu. Untuk menyeberang menuju pulau Badi ada beberapa alternatif penyeberangan yang bisa kita dipilih: Pelabuhan Paotere, Kayu Bangkoa di Jalan Pasar Ikan, atau Dermaga Benteng Panynyua di depan Fort Rotterdam.

Kami menyeberang menumpang perahu motor milik pak Dollah yang penumpangnya bukan hanya kami. Keseluruhan sekitar lima belas orang bersama beberapa warga yang memang bermukim di pulau tersebut. Mereka hendak pulang setelah membawa hasil laut tangkapan mereka untuk dijual pada pengepul yang sudah menunggu di pelabuhan Paotere. Sebagian yang lain pulang setelah membeli beberapa keperluan rumah tangga di kota Makassar.

Numpak  kapal cepat milik salah seorang nelayan yang berusia kisaran setengah abad itu, kami menempuh perjalanan sekitar 2 jam lebih 15 menit. Tergantung kecepatan perahu motor dan kondisi ombak. Kami sama sekali tidak menggunakan life jacket atau pengaman apapun. Sebagai yang tidak pandai renang, saya sempat risau, kalau-kalau terjadi apa-apa dengan perahunya maka tamatlah saya. Untungnya waktu itu saya masih cukup muda hingga gappang saja menepis risau.

Sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol dengan penumpang lain. Mereka ramah dan antusias, bahkan sebagian menawari kami menginap di rumahnya. Karena tahu kami pendatang. Tapi saya menolak dengan alasan sudah punya tempat untuk menginap —walaupun belum tau pasti soal ini, tapi kata Bintang “aman” dan saya punya imagine yang cukup baik soal itu—

Setelah benar-benar sampai di sana baru lah saya tahu kondisi yang sebenarnya. Di tahun itu, jangan harap menemukan satu pun penginapan selain bibir laut dan seluas punggung pulau yang bisa dijadikan tempat nginap dengan membangun camp atau memilih salah satu rumah warga untuk numpang nginap. Pantas saja beberapa orang senyum-senyum ketika saya menolak tawaran menginap di rumahnya dengan alasan sudah punya penginapan. Saya protes soal ini kemudian. Ditertawakan oleh Bintang.

Baca Juga: Rumah Kecil
Dermaga kedatangan di pulau Badi

Tepat saat kapal cepat yang kami tumpangi bersandar di salah satu dermaga (di pulau Badi ada dua dermaga penyeberangan). Pulau itu menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah, biru air yang jernih dengan bayang-bayang terumbu karang nampak berkilauan terkena pantulan sinar matahari, serta pasir putih yang dari kejauhan terlihat lembut. Entahlah, saya tidak menemukan diksi yang tepat untuk menggambarkan keindahannya, saya sampai lupa kalau tadi sepanjang perjalanan menegang sebab risau takut tenggelam.



Penampakan terumbu karang dari atas
Pulau Badi yang juga dikenal sebagai wilayah percontohan rehabilitasi rumput laut terbesar dunia dan tempat budidaya kuda laut. Terletak di Desa Mattiro Deceng, Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajenne Kepulauan (Pangkep) dengan luas wilayah sekira 6,50 hektar yang dihuni 400 kepala keluarga sejak tahun 2007 menurut data statistiknya. Di pulau ini juga terdapat banyak hal menarik, selain panorama alamnya yang amat indah.




Pulau itu terbilang tidak terlalu luas, namun padat penduduk. Hampir semua rumah dibangun dengan model dan warna yang serupa. Rumah panggung dengan tiang penyanggah yang tidak terlalu tinggi. Semua bangunan dilengkapi teras yang nyaris mirip satu sama lain, membuat saya sedikit kebingungan. Belum lagi keberadaan rumah yang berdempetan hanya disekat dengan lorong-lorong. Kami harus berbelok beberapa kali sebelum akhirnya menemukan rumah pak Dollah, yang akan kami jadikan tempat berteduh selama kami di pulau. Barangkali saya bisa tersesat jika berjalan sendiri.

Penduduk pulau Badi sebagaimana juga masyarakat di pulau-pulau terpencil pada umumnya, didominasi nelayan. Akses pendidikan yang tak begitu memadai menjadikan masyarakat pulau Badi sebagian besarnya tunaaksara. Hal serupa juga dirasakan oleh anak-anak usia sekolah di sana. Banyak yang sudah berumur 9 tahun ke atas tapi belum pandai baca. Saya akan menceritakannya di lain kesempatan.

***
Sesampainya di rumah, kami disambut hangat oleh istri pak Dollah, dan dipersilahkan untuk menganggap rumah itu sebagai milik sendiri tanpa perlu merasa sungkan. Tak hanya keluarga pak Dollah, anak-anak di pulau Badi pun sama supel. Di sore menjelang malam, kami sudah dikerumuni anak-anak, tepat di depan rumah Pak Dollah. Bintang memandu mereka, diajaknya duduk melingkar, bercerita, berkelakar, sampai ke permainan games, kemudian baris-berbaris. Saya mengambil langkah mundur menjauhi kerumunan. Sedikit menikmati aroma laut yang tajam serta angin pantai yang cukup dingin. Tenang sekali.

Keesokan harinya, di pagi buta, pak Dollah sudah turun laut, seperti warga lainnya yang dominan adalah nelayan. Sedangkan saya masih menikmati bermalas-malasan, efek lelah dari perjalanan kemarin baru terasa. Saya baru bergegas keluar rumah setelah Bintang dan Pak Dollah kembali, bersama seember cumi berukuran sedang. Kawan seperjalanan lain juga sudah mempersiapkan pembakaran. Kami akan sarapan dengan cumi bakar. Semua cumi hanya dicuci bersih lalu ditata di atas pembakaran. Masih di depan rumah pak Dollah.

Setelah dirasa cukup matang, cumi kemudian disantap bersama biji cabai yang diurak-arik di piring berisi kecap. Nikmat dan berhasil membuat saya klenger setelah menghabiskan cukup banyak. Beberapa minggu setelahnya saya lewati tanpa cumi.

Sehabis menyelesaikan sarapan pagi, kami lalu berkeliling pantai ditemani anak-anak yang bermukim di pulau Badi, ramai sekali. Belasan anak ikut menemani. Sebagian mereka ikut berenang, sebagian yang lainnya hanya bermain pasir di bibir pantai.



Kalau melihat anak-anak pulau berenang lincah, di situ kadang saya merasa, hiks.
Seperti rencana awal, kami snorkling (tak usah membayangkan bagaimana si tak pandai renang ini ikutan snorkling) saya hanya menetap di pinggir-pinggir, atau menempel di kaki penyanggah dermaga atau di tuntun, hahaha.



Nah kan, beginilah jadinya kalau tak pandai renang. Harus dituntun di kedalaman tertentu hahaha.


Di kesempatan itu, kami bawa alat snorkle dari rumah, di sana belum ada penyewaan alat. Mungkin sekarang sudah ada. Tapi kalau mau snorkling dan menikmati keindahal dasar laut Pulau Badi, sebaiknya persiapkan alat sendiri beserta perlengkapan lainnya, seperti topi dan sunblock, cuaca pulau Badi cukup panas, bahkan di sore hari, anginnya juga cukup kencang.

Bibir pantai di sore hari, indah kan?
Dasar laut di Pulau Badi sangat subur, terumbu karangnaya cantik sekali. Kita juga bisa menemukan berbagai macam ikan warna-warni, dan yang paling menyenangkan, di sana sangat jarang ditemui gerombolan bulu babi. Benar-benar surga wisata bahari. Puas menikmati keindahan laut, kami lanjut bermain istana pasir sambil mengobrol dengan anak-anak pulau.


Sayang sekali, di jam yang sama dengan keberangkatan kami kemarin, kapal yang hendak kami tumpangi pulang menghentikan kegembiraan di hari itu.



Facebook: Anugrah Reskiani
Instagram: @anugrahreskiani
Twitter: @anugrahreskiani
Email: anugrah1reskiani@gmail.com


You Might Also Like

4 komentar

  1. Baru dengar nih namax pulau Badi. Memang banyak sekali ya pulau yg menjanjikan keindahan

    BalasHapus
  2. Sudah sering mendengar tentang Pulau Badi ini, tapi sayangnya belum sempat ke sini sendiri
    belum sempat melihat langsung pulau ini.

    mudah-mudahan nanti saya berjodoh juga dengan pulau ini

    BalasHapus
  3. aku juga ga bisa berenang mba ;p.. pernah pas bareng teman kantor ke pulau samalona, aku takut banget di perahu karena mikir, ini kalo kebalik kamera dslrku lgs wafat, trus aku tenggelam hahahaha... makanya kurang suka kalo ke tempat2 yg hrs pake kapal :(. padahl atempat2 begini indahnya luar biasa juga yaaaa, trutama bawah laut... ntah kapanlah ini aku mau belajar renang demi bisa liat itu ;D. makanya sampe skr tujuan fav ku selalu gunung..

    BalasHapus
  4. Oh my God, di pulau Badi ini sinyal internet stabil tidak? Kalau iya, nanti kalau ke sana lagi tolong kabari saya. Saya mau ikut :D

    BalasHapus

Like us on Facebook