Follow Us @soratemplates

Rabu, 18 Juli 2018

Merawat Harapan


Friedrich Nietzsche terlalu berlebihan. Menggunggat invisible power yang memelihara kebahagiaan-kebahagiaan manusia.

Memangnya apa tolak ukurnya? Bagaimana menakar kebahagiaan? Memprediksi kemungkinan kecewa dengan cara?

Jawabannya variatif. Terlalu subjektif.

Orang dengan standar harapan (baca: optimis) relatif rendah, praktis akan menjadikan harapan sebagai pintu masuk menuju kekecewaan. Seperti ini misalnya: Tak usah berharap, ujung-ujungnya juga akan kecewa. 

Kerap berpikir demikian?

Seperti Nietzsche yang sedang putus asa:
Harapan,  pada kenyataannya,  adalah yang terburuk dari semua kejahatan,  karena itu memperlambat siksaan manusia. Katanya.

Ah, nampaknya Nietzsche benar-benar tengah putus asa. 

***

Untuk menuliskan ini, saya harus menunggu adik bungsu saya tiba di Makassar.

Si bungsu, saya memanggilnya Kim. Nama lengkapnya lucu dan terlalu pendek. Sukiman. Hanya itu. Harus diulang dua kali untuk keperluan administratif yang mensyaratkan nama dengan dua kata. 

Karena itu juga, dia kerap disalahpahami. Disangka orang jawa.

Nama itu ia dapatkan dengan motifasi sederhana dari bapak. Sukiman, singkatan dari Suka Iman, katanya.

Well, anaknya sangat optimis. Sedikit pemalu. Tapi banyak mengantongi cita-cita yang kerap ia simpan sendiri. Penuh rahasia.

Kunjungannya kali ini telah ia rencanakan sejak tahun lalu. Setelah mengikuti event marathon 10k di Kendari, Sulawesi Tenggara. Pada perayaan hari juang Kartika, sekaligus menjadi perlombaan pertamanya. Pada Desember 2017.  Di usia 21 tahun.

Ia mencatat waktu 1 jam lebih 5 menit selisih 31. 7 menit dari si pengambil juara. Sangat jauh.

Meski tak juara, ia pulang dengan kegembiraan yang meluap-luap. Sambil menenteng televisi 32 inc. Hadiah hiburan yang diundi dari nomor dada peserta. Untung saja bukan mesin cuci yang ia dapatkan. Akan kerepotan ditentengnya.

Tak hanya itu, ia juga membawa serta rencananya: Mengikuti event marathon tahun berikutnya di Makassar.

Ketika itu, saya menggodanya sebab tertinggal jauh dari yang  tercepat larinya. "Apalagi di Makassar, akan lebih banyak lagi atlet yang sudah jadi pelari sejak bisa berjalan" kataku.

Ia praktis menjawab "Itu pesimis namanya. Saya juga masih punya banyak waktu untuk latihan. Masih tahun depan lombanya." Ia selalu pandai merawat semangat.

Tiba pada hari yang direncanakan: Minggu  15 Juli 2018. Si bungsu menyelesaikan pertandingannya di Bukopin Makassar Marathon 5k. Ia melakukannya dengan cukup baik 29. 28 menit sedang yang tercepat menyelesaikannya 17. 25 menit. Kali ini tetap tak juara. Tapi dapat medali.

Sepertinya dia sudah cukup senang dengan medali dan sertifikatnya (yang namanya dieja dua kali). Sama sekali tak ada gurat kecewa di wajahnya. Ia menikmati hasilnya.

Bahkan saat ditanya ia berada di urutan berapa pasca usainya perlombaan. Jawabannya hanya "Tidak juara, banyak sekali atlet" sambil cengengesan. Ia bahagia. "Nanti, saya akan ikut lagi di perlombaan selanjutnya" akunya dengan binar di mata. Masih memelihara harapan.

Jangan salah paham, ini hanya kebetulan saja. Muhammad Zohri sedang ramai diperbincangkan. Tak ada tendensi apapun dalam tulisan ini. Apalagi iklan shampoo.

Saya kira, Zohri pun sama optimisnya. Ketika mengikuti kejuaraan sprinter 100 meter taraf Internasional yang kabarnya baru dieluh-eluh setelah mengukir prestasi. 10. 18 detik, rekor yang luar biasa. Tapi pemerintah nampaknya cukup sibuk untuk merawat Zohri di hari-hari sebelum menenteng Medali.

Hingga riuh digunjingkan bendera Republik Polandia yang terpaksa dibalik Zohri. Demi menunjukkan merah putih pada dunia.

***

Okay, lupakan soal Zohri. Kita kembali mengatur ritme semangat dalam diri kita. Optimis pada harapan adalah salah satu alasan manusia tetap hidup. Tetap bahagia. 

Jangan terlalu lama berkontemplasi di atas kecemasan-kecemasan dan bayangan kekecewaan. Putus asa sedekat itu dari harapan-harapan yang tak terpelihara. Dan juga, tetap menyertakan Tuhan di setiap harapan-harapanmu.

Berikan juga dukungan terbaikmu pada orang-orang disekitarmu. Kau tak pernah tahu kan: Bentuk dukungan mana yang menggerakkan semangat mereka?

Kalau begitu, lakukan saja sebanyak-banyaknya!!

Ini juga berlaku untuk hal sebaliknya, ejekan dan bully-an turut serta mematahkan semangat orang. Tanpa tahu yang mana dan bagaimana.

Okay-okay, saya sok bijak. Orang juga boleh ketawa. Asal jangan salahkan Nietzsche. Dia sudah lama hidup tenang.

Oiya. Masih ingat sepenggal deklarasi Nietzsche yang fenomenal? Tuhan telah lama mati, katanya. Coba diperiksa Tuhan siapa yang ia maksud.

Kim di garis finish



















Follow Me On:
Facebook: Anugrah Reskiani
Instagram: @anugrahreskiani
Twitter: @anugrahreskiani
Email: anugrah1reskiani@gmail.com

12 komentar:

  1. Hay kak.. Salam kenal.. Btw kak, nama Nietzsche yang jadi pembuka dalam tulisan ini, siapa ya kak? Mohon maaf saya kurang gaul 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Evhy:) salam kenal juga. Oiya Doi filsuf Jerman dan ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kuno, kritikus budaya, penyair dan komposer. Banyak deh pokoknya hahaha

      Hapus
  2. zohri lagi, dia lagi..
    jujur saja, saya memang tidak satu desa dengan zohri, tapi nampaknya kehidupan kami tidak banyak perubahan semenjak zohri mengangkat merah putih (entah putih merah) di Eropa sana..

    justru saya menjadi pesimis dia dapat mengulang kejayaan yang sama nantinya, apabila dia dikejar target.. padahal namanya dia menjadi begitu tersohor akibat memenangkan pertandingan yang barangkali sama sekali ia tidak targetkan untuk menang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo mas Affan salam kenal yah :)
      Mas benar. Tapi setidak di suatu tempat yg entah di mana, Keberhasilan Zohri menjadi penyulut semangat orang-orang. Sekalipun ajang olahraga tidak seheboh kontestasi politik di negara kita dan tidak banyak merubah kehidupan seperti yg mas katakan tadi. Tapi keberhasilan Zohri sudah sangat patut disyukuri sih, yah semoga saja bisa tetap konsisten tidak terganggu tawaran iklan 😂😂

      Hapus
  3. Berikan juga dukungan terbaikmu pada orang-orang disekitarmu. Kau tak pernah tahu kan: Bentuk dukungan mana yang menggerakkan semangat mereka?

    Suka banget sama paragraf ini!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yey terimakasih bunda kece 😍😘

      Hapus
  4. Zohri yah kak? zohri nambaknya mengajarkan banyak kepada kita kita bahawa keserdahanaan dan hidup dikeluarga yang berkecukupn itu twm3tap mampu memberikan yang terbaik untuk indonesia dan membuat bangsa indonesia bangga.

    dari tulisan kk uga aku baru tahu tuh kk tentang Nietzsche. Awalnya kirain bahasa gaulnya netizen lagi. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ndah. Banyak terkagum-kagum sama sama dia.
      Ahahaha Indah lucu ih.

      Hapus
  5. Salam salut buat adik Sukiman. Suka sama caranya merawat semangat.
    Dan tetap suka dengan cara Uga menulis. Unik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti Uga sampaikan kak :)
      Hihihi terimakasih kak. Uga slalu speachless kalo dipuji sama penulis keren 😊😊

      Hapus
  6. Deh 5k... keren tawwa... saya keliling setengah Unhas saya sudah capek duluan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toosss kita sama.
      Jangankan keliling unhas Wani, lari memotong lapangan futsal saja saya sudah mangap-mangap hahaha

      Hapus