Konstalasi Rindu Yang Enggan Tuntas

11:14 AM


Peringatan: Seperti judulnya, tulisan ini beraroma rindu dan sarat curhatan. Harap jangan melanjutkan jika tak sesuai selera!

Pada beberapa hal yang enggan tuntas. Seperti konstalasi rindu: timbul tenggelam. Saya menjadi teramat pengecut. Tanpa bergurau, saya rindu. Tapi untuk kembali saya juga maju-mundur.

Padahal, “Apa-apa yang belum tuntas akan selalu punya cara menemukanmu kembali” layaknya permainan karma.

***
Tiga tahun berselang, sejak saya memutuskan mundur teratur dari aktivitas duduk melingkar bersama kawan yang dipertemukan oleh selera serupa. Bincang buku. Ngobrol ngalor-ngidul yang kami sebut diskusi, tanpa kursi. Supaya tak berakhir lempar kursi. Sekalipun sangat jarang terjadi. Kadang-kadang saya juga ikut turun ke jalan. Menenteng toak.

Sesekali, (meski hampir tiap hari) bale-bale dan rumput bawah pohon kerap menjadi tongkrongan, tentu saja setelah kantin (yang dengan bulat suara disepakati sebagai fakultas pertama di kampus) dengan alasan sederhana: karena ada kopi, sepiring gorengan yang baru nikmat kalau diperebutkan, tak ada aksi buru ranking yang membosankan dan dosen yang memberi nilai A pada mahasiswa asal rajin saja.

Karena saya bukan termasuk kategori mahasiswa rajin, itu sudah pasti. Saya pengumpul huruf “A” di hampir semua daftar hadir mata kuliah semester. Apalagi untuk jadwal kuliah pagi.  Penyakit laten mahasiswa sudah menyerang saya sejak tahun pertama kuliah. Terjaga sepanjang malam dan tidur setelah azan subuh sudah biasa. Bahkan sampai hari ini, penyakit laten itu masih saya pelihara jauh tahun pasca lulus kuliah. Bukan sesuatu yang baik. Tapi apa daya mata tak kunjung berdamai.

Kebiasaan absen saya tak hanya terbatas pada jadwal kuliah pagi, penyakit laten selanjutnya juga memebuat saya kerap meninggalkan kelas, melipir ke kantin atau lebih senang mengikuti kegiatan di luar kelas. Terlebih lagi kalau suasana kelas sudah mulai membosankan. Yah saya pembosan yang akut. Mungkin semua orang juga kerap merasa bosan, tapi “kebosanan” nampaknya mengambil lebih banyak ruang dalam kisah hidup saya. (Bangke, tak ada bagus-bagusnya saya selama jadi mahasiswa)

Tapi saya tak sedang mencari pembenaran kenapa saya tak kunjung pandai dan nilai IPK yang sama sekali tak tinggi. Bahkan tak mencapai predikat Cumlaude. Perihal saya berada di urutan pertama, pada akhirnya. Itu sama sekali bukan hitungan. Hanya karena tak ada yang lebih tinggi saja nilainya di priode wisuda angkatan saya di jurusan. Entah karena yang nilainya relatif lebih tinggi memilih tak diwisuda berbarengan dengan saya. Atau karena saya yang terlalu tergesa-gesa angkat kaki dari kampus. Saat lingkungan kampus sudah mulai membosankan di tahun-tahun terakhir, membuat saya berbulat tekat tak melewati semester delapan. Saya menyelesaikannya hanya 3 tahun setengah. disertai banyak penyesalan.
Terutama penyesalan karena tak memanfaatkan waktu kuliah dengan baik sesuai standar dikti haha. Tapi bukan berarti saya tak belajar. Belajar tetap menjadi hal paling harus untuk saya lakukan (mengingat begitu banyak keterbatasan dalam pengetahuan dan penalaran saya yang kadang-kadang tumpul dan lebih sering tak berguna), meski tak selalu di ruang kelas.
Saya lebih banyak melakukannya di luar ruang kuliah. Di unit kegiatan mahasiswa (UKM), atau organisasi intra dan ektra kampus yang tak terlalu menarik untuk diceritakan seluruhnya. Washilah, Lembaga Pers Mahasiswa yang menjadi tempat pertama yang membuat saya lebih gemar bermainn di luar kelas dan menjadikan saya dengan senang hati meninggalkan ruang kuliah sewaktu-waktu.
Selain lembaga lain, lembaga pers mahasiswa menjadi salah satu yang kadung saya incar sejak memasuki tahun pertama kuliah. Sekalipun lazimnya semua lembaga organisasi yang sarat perpeloncoan, bagi saya itu tak jadi soal, –  asal  bisa jadi wartawan kampus dan punya akses lebih luas untuk belajar, juga bisa menikmati nasi lombok yang enaknya tiada tara kalau sudah dikeroyoki bersama.— Toh saya ahli menjadi orang yang menyebalkan kalau sudah mulai merasa terusik, dan saya bisa jamin tak ada yang begitu senang melihat saya merasa terusik.
Bermula dari sana, semangat baca saya mulai tersulut, terutama pada karya sastra dan novel. Dengan obsesi bisa membuat tulisan yang enak dibaca. Belajar jurnalistik memang tak begitu bertalian dengan bidang kuliah saya di kampus yang mengambil jurusan Perbandingan Hukum. Di Fakultas Syariah & Hukum UIN Alauddin Makassar (yang sekarang berada di Gowa). Walau tak bertahan lama di lembaga itu, karena sesuatu dan lain hal yang belum bisa saya bagi untuk sekarang. Tapi tetap menjadi sebuah kesyukuran bisa melalui masa-masa itu.
Saya tengah benar-benar rindu masa kuliah dulu (yang sama sekali tak saya temukan selama hampir menyelesaikan program pascasarjana sekarang ini). Sangat sukar untuk kembali merasakan yang sama. Singkatnya, saya sedang menikmati kondisi menjadi manusia biasa yang tak terlalu berfaedah haha.
Saya sudah benar-benar berubah sepertinya. Tapi bukankah semua hal juga akan berubah?! Baik, saya pertegas, semua harus berubah, agar tak tertinggal. Atau sekedar untuk beradaptasi. Anggaplah saya berada di alasan yang terakhir.
Mengingat, saya yang dulunya urakan, bahkan tak pernah mengenal kosmetik dan sekarang berani-beraninya mengkritiki lalu mereview skincare dan kosmetik (cuman berlagak). Bahkan kalau diingat-ingat, saya tak pernah punya masalah dengan ”mandi atau tak mandi” sebelum berangkat ke kampus. Apalagi di pagi hari (saya tak suka dingin), dan merasa cukup pede hanya dengan mengenakan piyama tidur yang luarya dibungkus jaket, PDH organisasi atau jas almamater kampus. Hingga merasakan sensasi seperti  kikuk-malu-mencelos saat bepergian ke suatu tempat lalu salah kostum, benar-benar evolusi yang baru belakangan ini saya rasakan. Sejauh itulah perubahan menggelikan yang saya alami.
***
Berawal dari genre tulisan, beberapa pekan lalu, terjadi baku debat antara saya dan kawan yang saya kenal sebagai pembaca kelas berat. Meski tak ingin menamai dirinya sebagai pemakan buku. Oleh genre bacaannya yang visibel di berbagai tulisannya. “Itu menulis atau orasi?” saya menggodanya dan sepertinya berhasil melukai egonya. Jadilah kami berdebat soal tulisan yang enak dan tak enak di baca. Tulisan yang kaya dan fakir denotasi. Tulisan yang dalam dan dangkal makna. Berujung pada penyerangan selera baca saya yang sudah mulai rusak atau kemampuan menalar saya yang hilang. Untuk yang terakhir itu, saya akui sepenuhnya.
Perdebatan kami berakhir seri, sama-sama menemukan kekurangan pada selera baca dan hasil tulisan masing-masing. Selera baca saya yang dangkal melahirkan tulisan yang sama dangkalnya pula, dan kawan saya dengan selera baca kelas berat yang juga menghasilkan tulisan yang sama sulitnya dicerna, atau kata lainnya “tak enak dicaba.”
Tapi kita masih sepakat, sebagai yang sama-sama pernah belajar hukum bahwa menulis materi hukum sama sulitnya dengan belajar hukum. Sehingga sangat sulit menemukan penulis hukum yang tulisannya enak dibaca tanpa mengurangi substansi. Nampaknya sudah menjadi sebuah konsekuensi: tulisan hukum yang sarat muatan akan terkesan terlalu kaku dan tak enak dibaca (Saya menggunakan standa selera pribadi) sedang yang enak dibaca, kadang kala substansi hukumnya jadi samar. Jadi, meski tak begitu suka berdebat, perdebatan kami kali itu banyak untungnya bagi saya, terutama menemukan banyak referensi penulis hukum dan novel hukum yang enak dibaca. Sekaligus juga sedikit merekadakan kerinduan pada “aktivitas kampus” seperti dulu. Meski tak tuntas.
Mengingat beberapa tahun belakangan yang entah sejak kapan, ada beberapa jenis tulsian yang tak menyenangkan untuk saya baca. Sejak saya menikmati waktu sebagai pembaca kelas ringan yang lalu berimbas pada selera menulis saya. Menikmati membaca dan menulis tulisan-tulisan yang maknanya sedangkal “makna berhenti bersaaman dengan titik di ujung kalimat”. Menikmati waktu bersibuk-sibuk yang tak jelas (sibuk yang sia-sia) Atau sekedar menikmati melihat dua orang perempuan yang bertemu saling cipika-cipiki hanya untuk mengendus aroma parfum satu sama lain, kemudia sibuk dengan pikiran masing-masing seputar “merk parfumnya apa dan harganya berapa – milik saya tak kalah bagus – besok saya akan pilih yang jauh lebih bagus.”
Terlalu satire? Atau frontal?
Tak perlu risau, ini wilayah pribadi, anggap saja saya sedang berada di rumah sendiri. Terlalu pengecut memang. Seperti itulah saya yang tak lagi gemar melakukan hal-hal tanpa rasa takut, hanya untuk dibilang pemberani. Itu bukan berani, melainkan nekat. Bukankan berani sejak dulu tak pernah berubah? Di mana kau melakukan hal-hal justru dengan rasa takut!
<<To be continue>>



Follow Me On:
Facebook: Anugrah Reskiani
Instagram: @anugrahreskiani
Twitter: @anugrahreskiani

Email: anugrah1reskiani@gmail.com

You Might Also Like

14 komentar

  1. Kamu adalah apa yang kamu baca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hey Firman :)

      Yup betul sekali. Saya juga pernah baca quot "Apa yang kamu baca hari ini adalah kamu lima tahun yanga akan datang" waw

      Hapus
  2. Wah... adek ku juga se fakultas sama kamu... uga angkatan berapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh yah? Saya angkatan 2011 beb hihihi

      Hapus
  3. wah tulisan kak uga luar biasa, penuh makna yang tersirat dan tersurat.wkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakkaka. Saya curiga Indah berimajinasi ke mana-mana hahah. Tolong jangan liar imajinasinya hhahaha

      Hapus
  4. MEmang sih, pengalaman dulu takkan kembali dan takkan pernah ada samanya. Saya juga masih rindu pengalaman kuliah dulu, bukan ketika di kelas tapi ketika ngumpul, mendengarkan diskusi atau materi yang diberikan senior. Saya rindu suasana maskulin yang membebaskan saya hilir-mudik tanpa di-bully. Dulu saya lumayan aktif di himpunan mahasiswa, soalnya. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kak.. Dan, sama kak saya juga lebih suka aktivitas di luar kelas hahah. Bebas tanpa ada stereotype yang yangekat antara laki dan perempuan hihihi

      Hapus
  5. Klo saya.tergantung temanya sih. Klo suka temanya, bacaan berat dan ringan pun tetap sama. Keren tulisannya Uga

    BalasHapus
  6. Wuih, Uga ternyata mahasiswa tukang demo dulunya 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal saya nda bilang kalau saya pernah demo kak hahahha. Masa lalu kak huhuhu

      Hapus
  7. Keren eui..jadi mahasiswa yang "bebas"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi iya bun. Jadi malu-malu sendiri Uga ketahuan bandelnya >_<

      Hapus

Like us on Facebook