Ilana Tan: In A Blue Moon (Review Novel)

6:21 AM



“No one is smart enough to remember everything he knows.
An idea unrecorded is an ide often lost.”
[Zig Ziglar]

Ingatan: salah satu hal terpayah yang dimiliki manusia.

Atau setidaknya itu yang berlaku untukku dan cukup sebagai alasan kenapa menulis kadang menjadi yang paling harus saya lakukan. Kemudian saya memilih blog sebagai sarana untuk itu, dengan alasan yang sederhana: di sini saya bisa ”ero-ero’ dan menuliskan apa saja dengan senang hati.

Sekalipun menulis juga selalu menjadi kegemaran yang kerap mengerjai. Tentu saja berbeda dengan mereka yang profesional dalam hal ini, yang mudah saja mengatur mood dan menemukan alasan untuk selalu menulis. Tak perlu menjungkir balik badan dengan harapan ide dari dengkul bergeser ke ujung kening.



Tapi penulis yang baik adalah pembaca yang baik, iya kan?

Penulis yang baik loh yah, bukan penulis yang hebat. Apalagi penulis yang tulisannya enak dibaca. Menggaris bahawahi soal “enak dan tidak enak dibaca” mungkin tulisan yang tengah sidang pembaca nikmati ini, adalah salah satu tulisan yang tidak enak dibaca. Tapi saya tetap berharap masih bisa dinikmati.

Ah, sial. Saya sudah ngelantur ke mana-mana. Padahal tadi niatnya mau mereview novel In A Blue Moon milik salah satu novelis favorit saya sejak jaman SMA dulu. Pertama kali jatuh cinta sama Ilana Tan pas baca Novel tetralogi empat musimnya: Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, dan Spring in London.

Novel tetralogi empat musim itu bergenre drama, yang mungkin akan dianggap lebay sebab terlalu perfect dan over imaginative ala novel sekali. Tapi untuk saya dengan modal selera anak sekolahan, yah itu sudah sangat keren. Apalagi Ilana Tan mahir membuat pembacanya tenggelam dalam cerita yang ia buat dengan penggambaran tokoh yang sempurna dan plot yang mengalir. Hanyut deh!

Kecintaan saya terhadap Ilana Tan sempat berhenti sampai di situ. Setalah beberapa purnama belakangan ini, gairah baca saya mengalami gangguan akut. Saya bahkan hanya menumpuk beberapa buku agar rak di kamar saya tidak terlihat terlalu menyedihkan. Dengan harapan tambahan tentu saja: minat baca saya bisa kembali lagi kapan-kapan, atau saya sudah bisa melihat buku-buku itu melambai-lambai untuk dibuka.

Hingga akhirnya, saya bertemu sepupu kecintaan saya dan terjadi adegan saling tukar novel. Bertemulahsaya dengan kekasih lama, si Ilana Tan dalam In A Blue Moon-nya yang beraroma Metro Pop.

Tulisan ringan rasa “Snack Taro” memang pemantik ampuh untuk mengembalikan minat baca.

Masih seperti novel-novel Ilana Tan terdahulu, In A Blue Moon ini berkisah tentang gadis berperawakan Asia, dengan tubuh mungil dan rambut potongan bob yang fresh.


Sinopsis Novel In A Blue Moon

“Apakah kau massih membenciku?”
“Aku heran kau merasa perlu bertanya”

Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson di bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis itu masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu – oh bukan! – melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lucas oleh kakeknya yang suka ikut campur.

Lucas mendekati Sophie bukan karena perintah kakeknya. Ia mendekati Sophie karena ingin mengubah pendapat Sophie tetang dirinya. Juga karena ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang – ini sangat jarang terjadi, tentu saja – kakeknya bisa mengambil keputusan yang  sangat tepat.

Sophie Wilson, sang gadis berwaja Asia dengan mata coklat gelap. Menjadi bagian dari keluarga Wilson pasca diadopsi sejak SMA di Cichago kemudian melanjutkan hidupnya di New York setelah orang tua angkatnya tewas dalam kecelakaan.

Selaku pemiliktoko kue A Piece Of Cake dengan dua saudara lelaki (Brother in law) serta kakeknya yang sudah mulai renta, menjadikan Sophie menjalani kehidupan yang nyaris sempurna. Sebelum akhirnya ia bertemu kembali dengan seorang yang menjadi alasan kuat “sinar di matanya” sirna sejak sepuluh tahun silam. Jika ada orang yang paling ia benci di dunia ini, maka Lucas Ford-lah orangnya.

Kesengsaraan yang ditimbulkan Lucas seolah tak ada hentinya. Ia hadir kembali membawa serta niatan kakeknya untuk menjodohkannya dengan Sophie Wilson, yang bahkan dengan tanpa persetujuan siapapun, Gordon Ford, kakek Lucas Ford  mendeklarasikan pertunangan cucu semata wayangnya dengan Sophie Wilson. Selain Gordon Ford adalah seorang kakek yang energic dengan semangat yang akan melakukan hal-hal diluar imajinasi orang-orang disekitarnya demi mencapai keinginannya, ia juga dengan bangga misi perjodohan itu disebutnya sebagai “Misi yang belum usai” Sebab ia dan kakek Sophie adalah kawan karib yang pernah berencana akan mengawinkan anak mereka kelak, namun tak kesampaian sebab masing-masing anak mereka adalah lelaki.

Keruwetan yang harus dihadapi Sophie Wilson tak hanya berhenti pada “Lucas Ford dan Kakeknya” sebab di waktu yang hamapir bersamaan Sahabat karib salah seorang kakaknya kembali setelah pergi selama empat tahun ke Johannesburg untuk perjalanan dinas sebagai seorang wartawan dan tiba-tiba saja menanyakan kabar Sophie “Apakah adikmu sudah menikah?” tanya Adrian Graves pada Spancer Wilson, kaka sophie, “Kenapa kau menanyakan itu?” Tentu saja Spancer agak terganggu dengan pertanyaan sahabatnya yang baru ditemuinya lagi setelah empat tahun itu. “Dia pernah memintaku menikahinya!”

Seseorang yang pernah Sophie minta untuk menikahinya empat Tahun silam itu kini benar-benar kembali lagi, di saat ia tengah bimbang dengan perasaannya sendiri akan dua pilihan: masih membenci Lucas Ford atau telah memaafkan pria itu atas apa yang dilakukannya di sekolah sepuluh tahun silam.

Fakta bahwa Adrian, lelaki yang pernah sangat Sophie cintai tanpa peduli sekalipun hubungan mereka sama sekali tidak seimbang: sebab ia lah yang terlalu mencintai Adrian. Muncul dengan sikap yang berbeda, yang seharusnya telah ia lakukan empat tahun lalu jika tak ingin benar-benar kehilangan Sophie, namun fakta itu terlalu terlambat disadari oleh Adrian sendiri.

Belum lagi lelaki yang berani mendekatinya harus mengambil risiko ditembak mati oleh kedua kakanya, Adrian dan Lucas Ford sudah siap mengambil risiko itu, yang pada akhirnya Lucas Ford-lah yang mengambil risiko heriok itu lebih dulu dan menyingkirkan Adrian dari kesempatan yang telah disia-siakannya sejak empat tahun silam.

Mengapa Adrian sedemikian pengecut?

Karena berurusan dengan kedua kakak Sophie dalam hal “mendekati adiknya” adalah sesuatu yang tak pernah berani bahkan untuk dipikirkannya sekali pun, sebab ia adalah sahabat karib salah satu kakak Sophie yang over protective.

Kengerian yang serupa juga pernah dialami salah satu kawan Sophie yang dikenalnya sejak sekolah, seorang orientalis bernama Nicolas Lee yang pada akhirnya bisa lolos mengakrabi dan berteman dengan Sophie setelah kedua kakak Sophie memastikan bahwa ia bukan jenis lelaki yang berbahaya, atau setidaknya-tidaknya takkan membahayakan dirinya untuk melihat Sophie sebagai seorang wanita.




“ Kau mungkin tidak sempurna, tapi kau sempurna untukku”

Salah satu kalimat manis dari Lucas yang berhasil membuat jantung Sophie berdebar dengan ritme yang tak seharusnya. Sekaligus kesadaran yang mengusik Lucas, akan fakta yang terlambat ia sadari, ketertarikannya pada Sophie Wilson telah  bermula sejak mereka di sekolah sepuluh tahun lalu. Namun kelakuan remaja SMA yang cenderung egois dan keterlaluan membuat Lucas Ford menduduki tangga teratas dalam daftar orang-orang yang dibenci Sophie Wilson.



“Apakah kau masih membenciku?” 
“Aku heran kau merasa perlu bertanya.”

Terlepas dari keinginan kakeknya, Lucas sebenarnya punya dorongan dari dirinya sendiri untuk mendekati Sophie, dan membuat gadis itu mempertimbangakan kembali penilaiannya tentang Lucas yang bukan lagi si bocah nakal sebagaimana yang Sophie kenal di sekolah.

Lucas pun berusaha membuktikan bahwa ia telah berubah dengan cara-cara yang mengesankan dan manis, dengan melibatkan dirinya pada beberapa kegiatan yang Sophie lakukan, hingga memberikan bunga “paling indah yang pernah dilihat” gadis itu.

“Jangan Menciumnya!!”

Tapi apakah hanya pihak dari tokoh si gadis yang mengalami complicated war? Oh tidak, Lucas Ford pun tengah berurusan dengan kakeknya yang hampir tidak masuk akal itu dan seorang model cantik dengan rambut merah menawan serta keindahan yang diidamkan oleh semua lelaki yang melihatnya, dia adalah Miranda Young, si cantik yang telah lama jatuh cinta pada Lucas Ford dan melakukan berbagai cara untuk meresmikan hubungannya dengan Lucas. Namun tak pernah sekalipun mencicipi makanan yang dibuat sendiri oleh Lucas Ford sang pemenang Medali Michelin dan pemilik Ramses: sebuah restoran warisan Gordon Ford yang sangat terkenal di New York, yang orang-orang bahkan berlomba untuk dapat menikmati makan siang dan makan malam di sana dan tak jarang berakhir sebatas keinginan belaka saking sulitnya mendapat kursi.

Mirnda Young, juga menjadi alasan kecemburuan Sophie tersulut namun tetap mati-matian ia sembunyikan, hingga pada situasi tertentu, mereka (Sophie dan Lucas) membuat sebuah kesepakatan yang tak boleh mereka langgar di perayaan malam pergantian tahun “Jangan Menciumnya!”

Lucas yang karena sesuatu dan lain hal harus melewati perayaan pergantian tahun bersama Miranda Young di Cichago dan Sophie yang melewatinya di New York yang tentu saja dengan Adrian di Sekitarnya. Yang pada akhirnya kesepakatan itu pula yang membuat mereka saling meyalahpahami satu sama lain.

Etapi.. Endingnya bagaimana?

Hooree, Happy Ending!! (Haaakh, saya sudah spoiler semuanya :D)

Tapi jika masih penasaran, dan ingin menikmati sendiri betapa renyahnya Novel In A Blue Moon ini, sila baca sendiri yah :)

Well, waktunya berterimakasih pada Ilana Tan dan In A Blue Moon-nya, sudah berhasil membangkitkan gairah baca yang tertidur terlalu pulas, tak butuh berapa lama, saya menghabiskan novel ini dalam dua hari saja.

Setelah mempertimbangkan: tentu saja saya tak ingin menjadi penyumbang terhentinya peradaban, seperti yang telah diprediksikan oleh seorang eksponen hukum yang tersohor, Justice Oliver Wendell Holmes bahwa: Peradaban akan berhenti ketika pembaca terakhir telah berhenti membaca.

Hey, tarik satu buku di rakmu dan membacalah, selamatkan peradaban yang terancam punah!!

Heran yah? Kenapa saya kurang kerjaan mereview novel In A Blue Moon ini? Selain alasan “Ingatan adalah salah satu hal terpayah yang dimiliki manusia” padahal novel ini sudah terbit sejak lama, dan masanya sudah bisa dikatakan berlalu?

Ohya, Semua buku adalah baru bagi yang belum membacanya, sepakat?

Thanks for reading :)


Keteranga Novel 
Judul: In A Blue Moon 
Pengarang: Ilana Tan  
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Tahun Terbit: 2015 
Jumlah Halaman: 318 
Cover: Softcover


Kalian masih bisa mendapatkannya di Gramedia terdekat di kota kalian atau membelinya secara online di www.bukabuku.com

You Might Also Like

16 komentar

  1. Saya baru baca 2 seri dari tetralogi Ilana Tan, dan sukaaa keduanya. Sepertinya yg ini juga menarik ��

    BalasHapus
  2. Yay iya kak, enak sekali cara Ilana Tan bercerita.. jadi hanyut 😍

    BalasHapus
  3. Pngen banget ngereview novel jg cuma blum ada kesempatan hehehe

    BalasHapus
  4. Hehehhe. Semoga ada kesempatan yah, Uga juga pengen baca reviewnya, siapa tau bisa suka juga sama novelnya :)

    BalasHapus
  5. Aah.. Sejak jaman kapan ya saya mulai tinggalkan kebiasaan membaca, termasuk cerpen dan novel yang kadang bikin senyum-senyum sendiri, gemes, bahkan mewek dan merasa kalo tokoh dalam cerita itu adalah saya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jom kak membaca pagi, senyum-senyum lagi, gemes lagi, mewek lagi #eh :D
      Tos kita sama, suka ngerasa jadi tokoh utama juga xixixi

      Hapus
  6. Setuju Uga, penulis yang baik adalah pembaca yang baik juga. Baca ini saya jadi tertarik ingin beli bukunya ilana tan juga, ingin juga meraskan snack taro ras ilana 😁.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes kak.. Enak sekali hahahha bikin ketagihan Ilana Tan tuh 😂😂

      Hapus
  7. Bukan hanya jantung Sophie yang bergetar, tetapi jantung aku juga setelah membaca tulisan ini " Kau mungkin tidak sempurna, tapi kau sempurna untukku”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huhuhu terharu, saya berhasil bikin jantungnya kak Abby bergetar. Eh Ilana Tan yg berhasil ding 😂

      Hapus
  8. saya tipikal orang yang malas beli buku kak kalau sampulnya sudah kebarat2an tuh kak. tapi setelah baca tuliasan kakaak. rasanya ingin ngereview deh kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yookk ngereview, jadi pen baca juga reviewnya Andi Indah, ditunggu yaaahhh :)

      Hapus
  9. Diksinya Uga umik. Kuat ki menjejak karakter Uga. Rasanya terlihat di setiao tulisan Uga. Keep writing ya Uga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih dukungannya kak. Saya bercita-cita jadi penukis kece kayak kak Mugniar 😘

      Hapus
  10. penasaran pengen baca lengkapnya, reviewnya seru begini bla haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih seru baca langsung kak.. greget gemes gemes mesra #eh 😂🤣

      Hapus

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe