PUISI | NGALOR NGIDUL

8:26 PM


Kaulah tempat pulang, berulang terbuka menalang risau. 
Kau pula lah rumah lapang, dengan ranjang luas menidurkan rindu.  

Sesekali kau menatap sendu, meneduhkan hasrat yang mulai menyeruak.
Kedua kali kau mencuri pandang, menyirat rasa tersembunyi malu.
Namun Berkali-kali kau hanya terdiam,  dengan suara nafas menderu teratur yang selalu kurindu. 

Akui saja kau pernah bertanya perihal buku bersampul biru.
Kikuk aku mengaku ada namamu dilembar pertama, kedua, ketiga, dan kesekian. 

Sekalipun soal aku-mengaku kita mungkin lamban, alon-alon menata kata,  kau dan aku masih tak payah mematahkan kata, dan kalah balap oleh mereka yang kalap.  

Tapi sesekali masih aku garis bagian yang tertulis namamu.
Sedangkan di suatu hari tak sengaja aku lihat kau merobek carik kertas lalu sigap masuk ke kantong. Carikan berisi tulirsan tanganku. 

Yang paling picik diantara kau dan aku, adalah kita yang terlalu kecut dilucuti malu.
Selalu malu-malu kemuadian mau. Malu lagi lalu menjadi layu.

Mata pandang mata, selanjutnya kerepotan menata hati,  hingga jantung sama-sama berdarah dan kita pergi tanpa pamitan, takut tekat kalah kuat, kala niat hampir luruh gemuruh rasa.
Cukup sekian pelihara rasa,  tak layak tanam dimasak pun tak matang. 

You Might Also Like

4 komentar

  1. Hm, sesuatu yang tak terkatakan tapi sama-sama tahu?

    BalasHapus
  2. Heheh kak Niar, Lebay yah kak? Tulisanlama, sayang kalau dibuang hihihi.

    BalasHapus
  3. Tempat paling lapang menidurkan rindu. Kalau luas skali, pinjam buat maen futsal, boleh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahha buat lari karung juga cukup 😂🤣

      Hapus

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe