JATUH CINTA HANYA IMAJINASI?

7:06 AM


Sebanyak apa yang kau harapkan dari perkenalanmu dengan seseorang?

Cinta yang banyak? Setangkai mawar di pagi hari? Atau ketukan pelan di pintu rumahmu?

Yah, espektasi adalah milik semua orang yang berimajinasi, karena ternyata otak cenderung lebih pintar dari yang kita bayangkan, ia mahir mempertemukan simpul-simpun indah untuk menciptakan rasa bahagia pada hal-hal yang sejatinya telah menarik perhatian kita sejak awal, atau pada hal-hal yang padanya kita menaruh beberapa harapan yang menyenangkan.

Siapapun boleh menafikkannya, tapi pada kenyataannya, jatuh cinta pada sesuatu adalah sugesti, stimulasi pikiran yang selalu mencari alasan bagaimana agar sesuatu itu menjadi indah, selalu indah atau tetap indah dimata kita.

Lalu siapa yang dapat menghentikanmu dari harapan-harapan menyenangkan itu? Di mana semua hal menjadi tidak rasional, di mana barisan doa-doamu hanya berisi bisikan halus tentang hari esok yang penuh dengan kebahagiaan?

Hingga pada cinta, tak butuh pengorbananan apapun. Karena pada dasarnya, kecintaan membuat seseorang melakukan apapun dengan senang hati, hingga saat kau merasa telah berkorban demi cinta atau atas nama cinta, mungkin kau butuh untuk mempertanyakannya kembali, “Benarkan aku masih mencintainya?” Atau “Mungkinkan cinta ini sudah hilang?” Karena cinta membuatmu melakukan apapun tanpa terbebani.

Baiklah, kau boleh mengingat-ingat kembali!!

Seberapa sering kau jatuh cinta dalam hidupmu? Sebarapa banyak kau merasakan kecewa dan sakit terluka karena cinta? Setelah semua hal itu, menjadi semakin kuat kah kamu? Semakin kebalkan kamu? semakin mahirkah kamu menolak tawaran cinta yang datang lagi padamu setelah hatam pada berbagai luka tetang cinta?

Seberapa kali pun kau mengalami jatuh cinta, dan luka karena cinta, pada kenyataannya, rasa terhadap jatuh cinta akan tetap menjadi baru setiap kali ia terjadi lagi. Tak peduli seberapa pandai kau menyimpan kenangan lamamu, dan seberapa kuat depensmu atas trauma luka yang pernah kau jumpai.

Kau juga boleh tak sepakat dengan saya soal yang satu ini. Karena kita memang berbeda pada banyak hal!

Tapi dari apa yang saya alami hari ini, mungkin esok dapat menjadi pembuktian tepat tidaknya saya soal ini. Perihal harapan-harapan yang tidak sengaja saya selipkan pada peristiwa yang sedang gaduh diperjudikan antara waktu dan kenyataan hari esok.

Tentu saja saya sadar sepenuhnya pada kenyataan dan kemungkinan, terlebih lagi setelah beberapa orang yang meremehkan pengharapan-pengharapan yang saya pupuk dengan hanya bermodalkan kemungkinan. 

Dan dengan lantang menyebutkan bahwa saya baik-baik saja, lalu diam-diam saya teringat kutipan dalam film The Italian Job bahwa “baik-baik saja” memiliki kesamaan arti dengan “panik, tidak aman, gelisah, dan emosional.” Dan diam-diam juga saya sepakat untuk itu, untung saja Filmnya happy ending.


Bukankah tidak berlebihan jika makhluk kecil ini memeliki sedikit pengharapan yang lebih besar?

Thanks for reading guys..


You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe