Follow Us @soratemplates

Jumat, 03 Agustus 2018

Nostalgia Pesona Bahari Pulau Badi

8/03/2018 4 Comments

Sudah sejak lama, saya ingin bercerita tentang perjalanan. Tapi belum pernah ke mana-mana sejak beberapa waktu belakangan ini.

Gairah berceritanya disulut seorang kawan yang berada jauh. Di Lombok. Semoga kelak saya berkesempatan berkunjung ke sana. Atau si kawan kembali berkunjung ke kota kami. Serta tagihan beruntun dari kawan saya Bintang.

Kukatakan: Di Sulsel juga banyak pulau yang indah. Sekaliber tiruan surga yang sengaja dicipta di bumi. Supaya penduduk bumi tak bosan. Salah satunya adalah Pulau Badi.

Saya hanya tengah menerawang ingatan-ingatan di hari itu. Tepatnya 17 Oktober 2015, saya beserta empat orang kawan lainnya mengunjungi pulau Badi. Masing-masing kami berangkat dengan misi utama yang berbeda. Namun setidaknya dengan satu harapan sebagai bonus perjalanan yang sama, berlibur. Hanya petunjuk itu yang saya ketahui sebelum perjalanan dimulai.

Bintang, kawan yang sudah saya kenal sejak beberapa tahun lalu mengajak saya mengunjungi pulau Badi. Mau snorkeling katanya. Di pulau Badi pemandangan bawah lautnya cukup indah. Kita juga bisa menikmati ikan-ikan segar tangkapan para nelayan.

Malam sebelum keberangkatan, saya hanya dipesan untuk membawa beberapa pasang pakaian yang nyaman. Kami akan menginap semalaman di sana. Rute perahu hanya sekali sehari: Berangkat di siang hari sekira pukul 13.00 dan pulang di jam yang sama esok harinya. Lagi pula memang harus menginap. Tidak akan sempat jika harus pulang di hari yang sama.

Ini adalah perjalanan pertama saya ke pulau. Dimulai tanpa banyak pertanyaan, sebab tahu betul bagaimana Bintang sudah sejak lama berkunjung ke banyak pulau di sulawesi selatan. Sejak ia bergabung dengan komunitas Lentera Negeri. Ia kerap mendatangi pulau-pulau terpencil untuk sekedar berbagi cerita dengan anak-anak usia sekolah di sana, juga mengajari mereka baca tulis jika sempat.

Sekalipun saya baru diberitahu rencana perjalanan di malam harinya, sebelum berangkat keesokannya. Mengetahui kami akan berangkat berombongan beserta kawan perempuan yang juga ikut bersama kami, saya cukup lega. Bintang dan kawan-kawannya pasti sudah punya persiapan matang untuk ini. Paling tidak soal transportasi dan penginapan sudah mereka urus.

Meskipun saya sempat khawatir juga hari itu. Kalau-kalau ternyata itu bukan liburan, tapi kegiatan komunitasnya. Untunglah kata Bintang hari itu memang ada agenda komunitas dan beberapa volunteer akan berkunjung ke pulau Badi untuk agenda bulanan.Volunteer dari komunitas mengajar Lentera Negeri punya agenda bulanan: Mengunjungi pulau secara random untuk berbagi pengalaman, cerita dan ilmu pada anak-anak yang bermukim di pulau.— Tapi untuk kami berbeda. Ini hanya sekedar jalan-jalan biasa.

Yang menginisiasi liburan sebenarnya bukan Bintang. Iccang, salah satu teman yang bersama kami lah yang punya inisiatif itu. Kebetulan dia hendak mengambil GPS yang ia titipkan beberapa bulan lalu di sana. Iccang juga sudah mengenal baik pulau itu. Setelah sebelumnya melakukan PKL di sana. Dia mahasiswa Unhas jurusan perikanan, memilih pulau Badi sebagai wilayah penelitian singkatnya. Dia sudah mengenal beberapa penduduk pulau. Tahu harus menghubungi siapa untuk membawa kami menyeberangi lautan menuju pulau Badi.


Pelabuhan Paotere menjadi titik pertemuan kami hari itu. Tepat sehabis Zuhur kami sudah harus berkumpul di sana jika tak ingin ketinggalan perahu. Untuk menyeberang menuju pulau Badi ada beberapa alternatif penyeberangan yang bisa kita dipilih: Pelabuhan Paotere, Kayu Bangkoa di Jalan Pasar Ikan, atau Dermaga Benteng Panynyua di depan Fort Rotterdam.

Kami menyeberang menumpang perahu motor milik pak Dollah yang penumpangnya bukan hanya kami. Keseluruhan sekitar lima belas orang bersama beberapa warga yang memang bermukim di pulau tersebut. Mereka hendak pulang setelah membawa hasil laut tangkapan mereka untuk dijual pada pengepul yang sudah menunggu di pelabuhan Paotere. Sebagian yang lain pulang setelah membeli beberapa keperluan rumah tangga di kota Makassar.

Numpak  kapal cepat milik salah seorang nelayan yang berusia kisaran setengah abad itu, kami menempuh perjalanan sekitar 2 jam lebih 15 menit. Tergantung kecepatan perahu motor dan kondisi ombak. Kami sama sekali tidak menggunakan life jacket atau pengaman apapun. Sebagai yang tidak pandai renang, saya sempat risau, kalau-kalau terjadi apa-apa dengan perahunya maka tamatlah saya. Untungnya waktu itu saya masih cukup muda hingga gappang saja menepis risau.

Sepanjang perjalanan kami banyak mengobrol dengan penumpang lain. Mereka ramah dan antusias, bahkan sebagian menawari kami menginap di rumahnya. Karena tahu kami pendatang. Tapi saya menolak dengan alasan sudah punya tempat untuk menginap —walaupun belum tau pasti soal ini, tapi kata Bintang “aman” dan saya punya imagine yang cukup baik soal itu—

Setelah benar-benar sampai di sana baru lah saya tahu kondisi yang sebenarnya. Di tahun itu, jangan harap menemukan satu pun penginapan selain bibir laut dan seluas punggung pulau yang bisa dijadikan tempat nginap dengan membangun camp atau memilih salah satu rumah warga untuk numpang nginap. Pantas saja beberapa orang senyum-senyum ketika saya menolak tawaran menginap di rumahnya dengan alasan sudah punya penginapan. Saya protes soal ini kemudian. Ditertawakan oleh Bintang.

Baca Juga: Rumah Kecil
Dermaga kedatangan di pulau Badi

Tepat saat kapal cepat yang kami tumpangi bersandar di salah satu dermaga (di pulau Badi ada dua dermaga penyeberangan). Pulau itu menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah, biru air yang jernih dengan bayang-bayang terumbu karang nampak berkilauan terkena pantulan sinar matahari, serta pasir putih yang dari kejauhan terlihat lembut. Entahlah, saya tidak menemukan diksi yang tepat untuk menggambarkan keindahannya, saya sampai lupa kalau tadi sepanjang perjalanan menegang sebab risau takut tenggelam.



Penampakan terumbu karang dari atas
Pulau Badi yang juga dikenal sebagai wilayah percontohan rehabilitasi rumput laut terbesar dunia dan tempat budidaya kuda laut. Terletak di Desa Mattiro Deceng, Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajenne Kepulauan (Pangkep) dengan luas wilayah sekira 6,50 hektar yang dihuni 400 kepala keluarga sejak tahun 2007 menurut data statistiknya. Di pulau ini juga terdapat banyak hal menarik, selain panorama alamnya yang amat indah.




Pulau itu terbilang tidak terlalu luas, namun padat penduduk. Hampir semua rumah dibangun dengan model dan warna yang serupa. Rumah panggung dengan tiang penyanggah yang tidak terlalu tinggi. Semua bangunan dilengkapi teras yang nyaris mirip satu sama lain, membuat saya sedikit kebingungan. Belum lagi keberadaan rumah yang berdempetan hanya disekat dengan lorong-lorong. Kami harus berbelok beberapa kali sebelum akhirnya menemukan rumah pak Dollah, yang akan kami jadikan tempat berteduh selama kami di pulau. Barangkali saya bisa tersesat jika berjalan sendiri.

Penduduk pulau Badi sebagaimana juga masyarakat di pulau-pulau terpencil pada umumnya, didominasi nelayan. Akses pendidikan yang tak begitu memadai menjadikan masyarakat pulau Badi sebagian besarnya tunaaksara. Hal serupa juga dirasakan oleh anak-anak usia sekolah di sana. Banyak yang sudah berumur 9 tahun ke atas tapi belum pandai baca. Saya akan menceritakannya di lain kesempatan.

***
Sesampainya di rumah, kami disambut hangat oleh istri pak Dollah, dan dipersilahkan untuk menganggap rumah itu sebagai milik sendiri tanpa perlu merasa sungkan. Tak hanya keluarga pak Dollah, anak-anak di pulau Badi pun sama supel. Di sore menjelang malam, kami sudah dikerumuni anak-anak, tepat di depan rumah Pak Dollah. Bintang memandu mereka, diajaknya duduk melingkar, bercerita, berkelakar, sampai ke permainan games, kemudian baris-berbaris. Saya mengambil langkah mundur menjauhi kerumunan. Sedikit menikmati aroma laut yang tajam serta angin pantai yang cukup dingin. Tenang sekali.

Keesokan harinya, di pagi buta, pak Dollah sudah turun laut, seperti warga lainnya yang dominan adalah nelayan. Sedangkan saya masih menikmati bermalas-malasan, efek lelah dari perjalanan kemarin baru terasa. Saya baru bergegas keluar rumah setelah Bintang dan Pak Dollah kembali, bersama seember cumi berukuran sedang. Kawan seperjalanan lain juga sudah mempersiapkan pembakaran. Kami akan sarapan dengan cumi bakar. Semua cumi hanya dicuci bersih lalu ditata di atas pembakaran. Masih di depan rumah pak Dollah.

Setelah dirasa cukup matang, cumi kemudian disantap bersama biji cabai yang diurak-arik di piring berisi kecap. Nikmat dan berhasil membuat saya klenger setelah menghabiskan cukup banyak. Beberapa minggu setelahnya saya lewati tanpa cumi.

Sehabis menyelesaikan sarapan pagi, kami lalu berkeliling pantai ditemani anak-anak yang bermukim di pulau Badi, ramai sekali. Belasan anak ikut menemani. Sebagian mereka ikut berenang, sebagian yang lainnya hanya bermain pasir di bibir pantai.



Kalau melihat anak-anak pulau berenang lincah, di situ kadang saya merasa, hiks.
Seperti rencana awal, kami snorkling (tak usah membayangkan bagaimana si tak pandai renang ini ikutan snorkling) saya hanya menetap di pinggir-pinggir, atau menempel di kaki penyanggah dermaga atau di tuntun, hahaha.



Nah kan, beginilah jadinya kalau tak pandai renang. Harus dituntun di kedalaman tertentu hahaha.


Di kesempatan itu, kami bawa alat snorkle dari rumah, di sana belum ada penyewaan alat. Mungkin sekarang sudah ada. Tapi kalau mau snorkling dan menikmati keindahal dasar laut Pulau Badi, sebaiknya persiapkan alat sendiri beserta perlengkapan lainnya, seperti topi dan sunblock, cuaca pulau Badi cukup panas, bahkan di sore hari, anginnya juga cukup kencang.

Bibir pantai di sore hari, indah kan?
Dasar laut di Pulau Badi sangat subur, terumbu karangnaya cantik sekali. Kita juga bisa menemukan berbagai macam ikan warna-warni, dan yang paling menyenangkan, di sana sangat jarang ditemui gerombolan bulu babi. Benar-benar surga wisata bahari. Puas menikmati keindahan laut, kami lanjut bermain istana pasir sambil mengobrol dengan anak-anak pulau.


Sayang sekali, di jam yang sama dengan keberangkatan kami kemarin, kapal yang hendak kami tumpangi pulang menghentikan kegembiraan di hari itu.



Facebook: Anugrah Reskiani
Instagram: @anugrahreskiani
Twitter: @anugrahreskiani
Email: anugrah1reskiani@gmail.com


Selasa, 31 Juli 2018

Zoya Cosmetics Body Sorbet Blossom [Review]

7/31/2018 4 Comments

Iklim tropis di Indonesia membuat kita sudah sangat akrab dengan berbagai pelembab kulit, terutama untuk badan. Seperti Body Lotion misalnya, yang sejak dulu menjadi pilihan untuk mengatasi kulit kering, menjaga kelembaban kulit, serta memeilihara kecantikan kulit tubuh.

Belakangan, seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, industri kecantikan pun tak kalah melajunya. Berbagai inovasi dan varian produk kecantikan bermunculan. Serupa pelembab sekelas body lotion ini, juga sudah dikenal Body Moisturizer seperti: Body Butter, Body Scrub, Body Serum dan Body Sorbet.

Tapi, seperti judulnya, saya hanya akan membahas soal Body Sorbet, especially Zoya Cosmetics Blossom Body Sorbet. Just For you information: Zoya Cosmetics Body Sorbet tersedia 4 varian, yakni Blossom, Rose, Tropical, dan Cotton.



Body Sorbet sendiri adalah sejenis minuman berbentuk jus yang segar dan nikmat. Eh salah deng. Secara harfiah Sorbet memang berarti dissert yang terbuat dari jus buah-buahan segar. jadi yang disasar adalah: kalian yang membutuhkan lotion yang tak hanya melembabkan kulit tapi juga memberikan sensasi segar dan menyehatkan sekaligus.

So, you get the reason to spend your money for this one?
Not yet? Okay, here we go...!!!

Zoya Cosmetics Blossom Body Sorbet adalah pelembab tubuh yang memiliki tekstur ringan. Mengandung Grape Seed Oil (minyak biji anggur), Moisturizer dan Aloe Vera sebagai antioksidan yang menjaga kelembaban tubuh dengan sensasi segar, dan juga kandungan UV protection yang melindungi kulit dari sinar matahari.

Meski diklaim mengandung UV protection, Blossom Body Sorbet ini tidak mencantumkan tingkat SPFnya. It’s okay lah, kalau masih sangsi, tiban saja pake sunblock atau sunscreen. Toh doi memang bukan tabir surya, yah kan?




Packaging

Zoya Cosmetics Blossom Body Sorbet, ini packaging-nya berbentuk tube yang elastis berukuran 120 ml. Lumayan travel friendly, jadi enak dibawa-bawa. Apalagi kalau kalian suka menyimpan lotion di tas kalau mau ke mana-mana. Selain karena ukurannya tidak terlalu besar dan tube-nya elastis jadi bisa nyempil di tumpukan barang lain di dalam tas. Kece kan?



Zoya Cosmetics Blossom Body Sorbet, ini teksturnya gel ringan, middle between lotion and serum gitu, jadi dia berada di tengah-tengah, tidak secreamy lotion juga tidak secair serum. Pertama di-apply memang terasa lengket dan licin, tapi karena mudah menyerap, setelah menyerap sempurna jadinya tidak lengket lagi. Delicately freshen up you body!

Soal aroma, sesuai espektasi lah, Zoya Cosmetics Blossom Body Sorbet ini beraroma segar. Terutama pas lagi haus-hausnya, Kalau bisa diminum, habis deh.

Memang sebagus itu? Iya memang bagus! Tidak ada kekurangannya? Yah ada sih, terlalu licin. Setelah di-apply dan kena air terasa sangat mengganggu. lucun-licin gitu deh. 


Final Verdict

Impression saya mengenai Body Sorbet dari Zoya Cosmetics ini adalah: Saya Shock Guys. Panik: kirain saya bakal jadi siluman belut Hahah. Licin sekali dan lumayan melembabkan. Tapi saya tetap butuh reapply setiap beberapa jam, kalau sudah merasa cukup perlu saja. Kalau ditanya bakalan beli lagi, saya mungkin akan mencoba varian lainnya. Maybe the tropical one?! Or I’ll try all the varian. Hahah.

Tapi entah kenapa, tiap saya pakai Zoya Cosmetics Blossom Body Sorbet ini, sel kulit mati di tangan saya jadi terangkat semua saat di gosok-gosok. (Bandel sih ngapain pake digosok-gosok segala. Saya memang begitu anaknya, suka penasaran cuy). Tidak usah saya perlihatkan yah? Agak jorok hahah.

Ini juga belum tentu ulah si Body sorbet-nya, karena belakangan ini kulit saya lagi rewel saja, super kering dan mudah terkelupas, apalagi setelah terkena air. Masa iya saya alergi air?

Just try to see the effect in your skin. Karena penerimaan kulit kita berbeda-beda, efeknya juga akan berbeda-beda. But I highly recommended this product if you have some dry skin!!

Baca Juga Nature Republic Soothing & Muisture Aloe Vera Cleansing Gel


INGREDIENTS:
Aqua, Alcohol, Propylene Glycol, Butylene Glycol. Glyceryne, Dimenticone, Ricinus oil, Parfum, Benzophenone-3, Carbomer, Xantham Gum, Cyclopentasiloxane, Isohexadecane, Vitis Vinifera, Aloe Barbadensis Leaf extract. Triethanolamine, Tetrasodium EDTA, Sodium Hydroxide, DMDM Hydantonim, Benzyl Alcohol. Tocopheryl Acetate.

How To Use?
Simple, cukup usapkan ke seluruh tubuh secara merata.

Zoya Cosmetics Blossom Body Sorbet ini bisa kalian dapatkan dengan harga Rp. 40.000 untuk ukuran 120 ml. Lumyan lah yah.


Facebook: Anugrah Reskiani
Instagram: @anugrahreskiani
Twitter: @anugrahreskiani
Email: anugrah1reskiani@gmail.com

Senin, 30 Juli 2018

Modest Fashion Adalah Lifestyle Yang Menjadi Platform Hijup

7/30/2018 12 Comments

Kabar gembira...!!

Salah satu e-commerce ternama yang mulai melejit di industri fashion Indonesia dan kancah internasional beberapa tahun belakangan ini, resmi membuka offline store di makassar pada 28 Juli 2018. Tepatnya di Jalan Pengayoman No. 11 D Kel. Masale Kec. Panakukang, Kota Makassar.

Itu loh, HIJUP. Sudah pada tau belum?
Okay, here we go...!!

Platform Hijup

HIjup adalah Islamic fashion e-commerce pertama di dunia yang berdiri sejak tahun 2011, dengan konsep online mall: hijup.com dan offline store. Menyediakan berbagai macam produk terbaik karya desainer fashion muslim Indonesia. Hijup menyediakan modest fashion yang beragam, mulai dari pakaian, hijab, mukenah, hingga aksesoris.

Sejak awal berdiri, Hijup berperan sebagai perantara para desainer dengan pembeli di seluruh dunia. Dengan Hijup para desainer dapat meningkatkan keuntungan dengan lebih efisien, sementara pembeli bisa jadi lebih mudah mencari produk yang diinginkan.

Sejak berdirinya, Hijup berharap dapat memberi sesuatu yang lebih kepada seluruh wanita muslimah di dunia, bahwa hijab tidak lagi membatasi mereka untuk berkarya dan diakui di lingkungan sekitarnya. Semua muslimah layak untuk tampil menawan dengan pakaian yang cantik dan mengikuti trend, namun tetap sesuai dengan kaidah agama.

Prosesi Opening Store Hijup di Makassar

Prosesi opening store Hijup diawali dengan kisah awal berdirinya Hijup yang diceritakan oleh Anastasia Gretti Schender (Gege) selaku Head Creative Content Hijup. Hijup yang awalnya diinisiasi oleh Diajeng Lestari, berkantor di ruang yang hanya berukuran 3 x 3 hingga bisa bertahan selama hampir 7 tahun dan sudah mulai dikenal serta memiliki banyak tenant di berbagai daerah di Indonesia.

Gege juga berharap, Hijup tak hanya sekedar menjadi e-commerce fashion muslim pertama di Indonesia dan dunia, namun juga merangkak menjadi yang terbesar. Yang tidak semata-mata bertujuan untuk bisnis, namun dapat menjadi motor pergerakan industri fashion muslim Indonesia di kancah internasional dan dapat selalu memenuhi kebutuhan para muslimah di manapun mereka berada. Selain itu Hijup juga diharapkan dapat turut serta memajukan UKM-UKM menjadi roda penggerak ekonomi ummat yang terlibat di dalamnya. Pembukaan Hijup Store di Makassar juga diharapkan dapat menjadi perwujudan ukhuwah Islamiyah antar Hijup dan para customer-nya serta dapat senantiasa menanamkan nilai-nilai Islam serta memajukan industri modest fashion muslim indonesia.


Gege dalam memberikan sambutannya 

Di opening store ceremony, Hijup turut menghadirkan Muse Hijup, yakni Indah Nada Puspita dan Adelia Pasha, sebagai representasi hidup muslimah yang keduanya memiliki nilai yang sejalan dengan Hijup dalam menginspirasi melalui gaya hidup Islami.





Opening store ceremony Hijup juga dimeriahkan dengan fashion show memamerkan koleksi-koleksi Hijup.










Modest Fashion Ala Hijup

Ngomong-ngomong soal modest fashion, Indah Nada Puspita selaku Muse of Hijup yang sudah menjadi model untuk katalog Hijup sejak tahun pertamanya berdiri, menceritakan konsep yang diusung hijup dalam membangunn citra modest fashion yang tak hanya modis tapi juga tetap sopan yang termanifest sebagai sebuah lifestyle.


Adelia Pasha dan Indah Nada Puspita

Menurut Indah Nada, fashion is a business, apa yang dibisniskan? Wich is styling, color, art, taste. Those all about art. Jadi yang dibisniskan adalah seninya. Dalam bisnis ini, Hijup berbisnis modest fashion: fashion yang sederhan, sopan dan tertutup. Selain itu,  fashion (business) juga menyangkut lifestyle, “Berbelanja itu lifestyle, kita pasti butuh belanja. But too much shoping is not modest anymore.” Kata Indah Nada.

Bagi Indah Nada secara pribadi, Hijup bukan hanya platform untuk berbelanja sesuatu yang bermanfaat. Bagian yang paling ia sukai ialah Hijup juga banyak melakukan social work, seperti kajian. Secara tidak langsung Hijup menciptakan modest lifestyle bagi customer-nya. Yang menjadi alasan Indah Nada yang memulai karir awalnya sebagai fashion blogger itu, hingga kini masih bekerja sama dengan hijup karena merasa memiliki value yang sama yang ingin di-deliver ke sesama muslimah di Indonesia.

Nah, kalau sebelumnya customer hijup hanya bisa membeli produk by online, sekarang sudah bisa datang langsung ke store-nya. Selain di Makassar, Hijup juga sudah punya offline store di Jakarta, Palembang, Lombok, Bandung dan juga Malaysia. Pelebaran sayap secara offline adalah langkah yang dilakukan Hijup dalam meningkatkan pelayanan kepada para konsumen agar dapat melihat dan merasakan langsung berbelanja produk terbaik dari Hijup. Dan untuk kedepannya Hijup akan lebih fokus lagi pada pengembangan variasi brand dan produk serta membuka lebih banyak offline store di berbagai kota di Indonesia.


Suasana berbelanja pasca opening Hijup

Suasana berbelanja pasca opening Hijup


Facebook: Anugrah Reskiani
Instagram: @anugrahreskiani
Twitter: @anugrahreskiani
Email: anugrah1reskiani@gmail.com