Rabu, 18 Juli 2018

Merawat Harapan

7/18/2018 2 Comments

Friedrich Nietzsche terlalu berlebihan. Menggunggat invisible power yang memelihara kebahagiaan-kebahagiaan manusia.

Memangnya apa tolak ukurnya? Bagaimana menakar kebahagiaan? Memprediksi kemungkinan kecewa dengan cara?

Jawabannya variatif. Terlalu subjektif.

Orang dengan standar harapan (baca: optimis) relatif rendah, praktis akan menjadikan harapan sebagai pintu masuk menuju kekecewaan. Seperti ini misalnya: Tak usah berharap, ujung-ujungnya juga akan kecewa. 

Kerap berpikir demikian?

Seperti Nietzsche yang sedang putus asa:
Harapan,  pada kenyataannya,  adalah yang terburuk dari semua kejahatan,  karena itu memperlambat siksaan manusia. Katanya.

Ah, nampaknya Nietzsche benar-benar tengah putus asa. 

***

Untuk menuliskan ini, saya harus menunggu adik bungsu saya tiba di Makassar.

Si bungsu, saya memanggilnya Kim. Nama lengkapnya lucu dan terlalu pendek. Sukiman. Hanya itu. Harus diulang dua kali untuk keperluan administratif yang mensyaratkan nama dengan dua kata. 

Karena itu juga, dia kerap disalahpahami. Disangka orang jawa.

Nama itu ia dapatkan dengan motifasi sederhana dari bapak. Sukiman, singkatan dari Suka Iman, katanya.

Well, anaknya sangat optimis. Sedikit pemalu. Tapi banyak mengantongi cita-cita yang kerap ia simpan sendiri. Penuh rahasia.

Kunjungannya kali ini telah ia rencanakan sejak tahun lalu. Setelah mengikuti event marathon 10k di Kendari, Sulawesi Tenggara. Pada perayaan hari juang Kartika, sekaligus menjadi perlombaan pertamanya. Pada Desember 2017.  Di usia 21 tahun.

Ia mencatat waktu 1 jam lebih 5 menit selisih 31. 7 menit dari si pengambil juara. Sangat jauh.

Meski tak juara, ia pulang dengan kegembiraan yang meluap-luap. Sambil menenteng televisi 32 inc. Hadiah hiburan yang diundi dari nomor dada peserta. Untung saja bukan mesin cuci yang ia dapatkan. Akan kerepotan ditentengnya.

Tak hanya itu, ia juga membawa serta rencananya: Mengikuti event marathon tahun berikutnya di Makassar.

Ketika itu, saya menggodanya sebab tertinggal jauh dari yang  tercepat larinya. "Apalagi di Makassar, akan lebih banyak lagi atlet yang sudah jadi pelari sejak bisa berjalan" kataku.

Ia praktis menjawab "Itu pesimis namanya. Saya juga masih punya banyak waktu untuk latihan. Masih tahun depan lombanya." Ia selalu pandai merawat semangat.

Tiba pada hari yang direncanakan: Minggu  15 Juli 2018. Si bungsu menyelesaikan pertandingannya di Bukopin Makassar Marathon 5k. Ia melakukannya dengan cukup baik 29. 28 menit sedang yang tercepat menyelesaikannya 17. 25 menit. Kali ini tetap tak juara. Tapi dapat medali.

Sepertinya dia sudah cukup senang dengan medali dan sertifikatnya (yang namanya dieja dua kali). Sama sekali tak ada gurat kecewa di wajahnya. Ia menikmati hasilnya.

Bahkan saat ditanya ia berada di urutan berapa pasca usainya perlombaan. Jawabannya hanya "Tidak juara, banyak sekali atlet" sambil cengengesan. Ia bahagia. "Nanti, saya akan ikut lagi di perlombaan selanjutnya" akunya dengan binar di mata. Masih memelihara harapan.

Jangan salah paham, ini hanya kebetulan saja. Muhammad Zohri sedang ramai diperbincangkan. Tak ada tendensi apapun dalam tulisan ini. Apalagi iklan shampoo.

Saya kira, Zohri pun sama optimisnya. Ketika mengikuti kejuaraan sprinter 100 meter taraf Internasional yang kabarnya baru dieluh-eluh setelah mengukir prestasi. 10. 18 detik, rekor yang luar biasa. Tapi pemerintah nampaknya cukup sibuk untuk merawat Zohri di hari-hari sebelum menenteng Medali.

Hingga riuh digunjingkan bendera Republik Polandia yang terpaksa dibalik Zohri. Demi menunjukkan merah putih pada dunia.

***

Okay, lupakan soal Zohri. Kita kembali mengatur ritme semangat dalam diri kita. Optimis pada harapan adalah salah satu alasan manusia tetap hidup. Tetap bahagia. 

Jangan terlalu lama berkontemplasi di atas kecemasan-kecemasan dan bayangan kekecewaan. Putus asa sedekat itu dari harapan-harapan yang tak terpelihara. Dan juga, tetap menyertakan Tuhan di setiap harapan-harapanmu.

Berikan juga dukungan terbaikmu pada orang-orang disekitarmu. Kau tak pernah tahu kan: Bentuk dukungan mana yang menggerakkan semangat mereka?

Kalau begitu, lakukan saja sebanyak-banyaknya!!

Ini juga berlaku untuk hal sebaliknya, ejekan dan bully-an turut serta mematahkan semangat orang. Tanpa tahu yang mana dan bagaimana.

Okay-okay, saya sok bijak. Orang juga boleh ketawa. Asal jangan salahkan Nietzsche. Dia sudah lama hidup tenang.

Oiya. Masih ingat sepenggal deklarasi Nietzsche yang fenomenal? Tuhan telah lama mati, katanya. Coba diperiksa Tuhan siapa yang ia maksud.

Kim di garis finish






Minggu, 15 Juli 2018

Mamaku: Ibu Yang Terlalu Ibu

7/15/2018 14 Comments

Di perayaan hari ibu, Desember akhir tahun lalu. saya berencana memberikan hadiah "Hari Ibu" buat mama. tentu saja bukan ucapan beserta foto yang lalu diposting di linimasa, toh mama saya tidak akan pernah menemukannya.

Hasil berselancar di dunia maya, saya menemukan info lomba hari ibu. Bercerita tentang "Hadiah Dari Ibu" di Kompasiana. hadiahnya tidak banyak, tapi berupa uang tunai (Okay... saya memang matre :D)

Ini kesempatan. Sayangnya setelah saya pikir-pikir, hadiah apa yang pernah saya dapatkan dari mama? (Terlalu banyak, hampir selalu hahah, anak bangke) Tak mungkin saya ceritakan semuanya, bahkan permen karet pun masih minta sama mama. Di point yang ini, saya jelas sudah gagal. Tak ada ide.

Mencoba selanjutnya: Mengingat-ingat apa yang bisa saya ceritakan tentang mama saya. Apa yang berkesan dari mama saya? Mama saya pribadi yang seperti apa? Bagian ini juga gagal. Mama saya adalah Ibu yang terlalu ibu. Tak ada diksi untuk menggambarkan keibuannya. 

Bermodal keinginan dan khayalan, saya kemudian meminjam beberapa kisah kawan  semasa kuliah, yang kerap menabung rindu pada ibunya. Saya pun demikian. 

Saya lalu mengarang sebuah cerita, sambil berasumsi: ini kebohongan, sekaligus pembenaran selama saya tidak mengatakan kalau itu based on a true story, iya kan?

Lomba itu kemudian membawa saya ke sebuah tempat di sudut dunia maya. Menemui seseorang melalui tulisan-tulisannya, yang berujung menjadi serangan mind blowing. Yah nalar saya terporak-poranda karenanya. Alay kan? Lebay kan? Tapi begitulah faktanya. Saya bahkan tak bisa menulis satu kalimatpun sejak hari itu, hingga berbulan-bulan kemudian.

Dia juga membuat saya sedikit sulit percaya fakta terpilihnya "kisah karangan saya yang hanya bermodal imajinasi itu" dalam "4 kisah terpilih oleh Kompasiana" Bagaimana tidak? Saya sudah Down duluan pas baca tulisannya dia (kebetulan dia juga mengikuti lomba yang sama) bedanya hanyalah: Dia menulis kisah yang terlalu bagus. 

Akhirnya saya mengabaikan lomba itu. Tidak lagi menantikan pengumumannya dan terlambat lebih dari 2 pekan untuk mengkonfirmasi data yang diminta pihak penyelenggara lomba.

Ini sekaligus menjawab pertanyaan kawan saya. Yang turut menyemangati di awal saya memulai aktivitas ngeblog ini dan tiba-tiba menghilang selama setengah tahun, di beberapa bulan yang lalu.

Saya jadi percaya kalau ibu peri benar-benar ada. Tak ada sesuatu yang terjadi tanpa alasan, dan kebetulan hanya bahasa lain dari usaha-usaha kecil yang terabaikan.

Saya juga percaya, Teori Invisible Hand-nya Adam Smith juga berlaku dalam kehidupan keseharian, tak hanya untuk perekonomian pasar.

Ah, sudah yah. kalau tidak berhenti sekarang, saya pasti akan bercerita terlalu banyak soal "mempercayai" ini, saya bahkan  percaya kalau suatu hari nanti saya akan bisa terbang!
***

Okay, sudah terlalu terlambat, tapi tak apa. Saya akan tetap menyertakan "Kisah Hadiah Dari Ibu" yang saya ceritakan tadi. Selamat Membaca!!


SEHELAI SAJADAH BULU DARI AMAK

Saya dan amak (panggilan untuk ibu saya) telah lama hidup terpisah. Saya harus melanjutkan kuliah di kota. Meninggalkan amak di desa yang berjarak satu provinsi jauhnya. Dikarenakan jarak yang cukup jauh dan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk membeli tiket pesawat, jadi kami hanya bertemu setahun sekali jika beruntung. Hanya pada perayaan lebaran saja. Itu pun tidak selalu demikian. Terkadang pada perayaan lebaran kami hanya saling menyapa melalui telepon seluler. 

Tapi hingga kini, amak masih saja selalu memperhatikan hal-hal kecil. Terutama menanyakan saya sedang berada di mana. Sedang melakukan apa. Apakah sudah makan siang atau belum dan hal-hal sepele lainnya. Seolah-olah saya adalah anak kecilnya tak peduli sebesar apa pun saya sekarang, saya akan tetap menjadi putri kecil amak.

Suatu waktu, tepatnya beberapa bulan yang lalu. Amak mendapat rezeki untuk berkunjung ke kota tempat saya tinggal. Ada sanak saudara yang hendak melakukan hajatan pernikahan untuk anak tertuanya katanya. Amak telah lama menantikan momen itu, dan rajin menabung akhir-akhir ini agar bisa membeli tiket pesawat untuk bertemu dengan keluarga sekaligus juga menemui saya, “Sekalian, kan biar hemat” kata amak waktu itu. Meski hanya dari seberang telephone genggam, saya bisa merasakan kegembiraan dari suara amak. Sudah lama kami tidak berjumpa. Amak rindu sangat katanya.

Begitu tiba di bandara siang hari, saya segera menjemput amak. Kota ini terlalu luas dan asing bagi amak yang usianya sudah mulai senja. Ia takut tersesat, jadi saya harus menjemputnya lebih awal, takut amak khawatir jika menunggu terlalu lama di bandara. 

Saya lalu membawa amak di kamar kontrakan yang selama ini saya tempati. Tidak luas. Hanya sekitar 3 x 3 meter dengan satu lemari dan kasur lantai. Saya sempat khawatir kalau-kalau tempat saya tidak nyaman buat amak. Karena terlalu sempit dan lagi kami harus berbagi ruang dengan barang-barang saya yang kesemuanya tidak bisa dimasukkan ke dalam lemari pakaian.

“Yang penting amak ketemu kamu nak, itu sudah cukup, tak peduli amak tidur di mana, amak hanya rindu kamu” Kata amak sambil memeluk saya begitu kami tiba di kamar kontrakan yang saya tinggali selama beberapa tahun ini.
***

Tak lama setelah amak tiba, ia lalu sibuk mengitari dan merapikan setiap sudut di kamar saya. Hari itu memang sangat berantakan belum sempat dirapikan. Meski saya beberapa kali melarang amak dan menyuruhnya beristirahat saja setelah melakukan perjalanan jauh. Amak nampaknya sangat menikmati merapikan baju-baju saya satu persatu dengan lamban namun teliti.

Saya terdiam memandangi amak dari sudut ruangan. Garis wajahnya semakin lelah termakan usia. Gerakannya semakin melamban. Amak sudah benar-benar menua. Selagi sibuk memperhatikan amak: Saya terkaget saat amak mengajak saya mengobrol tiba-tiba. Mungkin juga tidak tiba-tiba hanya saja perhatian saya sedang melayang hari itu.

“Sepertinya amak harus membeli kerudung putih untuk dipakai ke acara nikahan kakak sepupumu, kerudung amak sudah menguning, rasanya tidak pantas lagi dipakai ke acara yang ramai seperti itu. Nanti kamu temani amak yah ke pasar di dekat sini.”

Hati saya seperti teriris perih mendengar ucapan amak. Dulu amak selau memperhatikan pakaian apa yang haru saya kenakan di hari raya. Sekalipun keuangan pas-pasan tapi amak selalu memastikan saya dan adik-adik punya setidaknya satu baju baru untuk dikenakan di hari raya. Tapi setiap kali saya tanya “Kenapa amak tidak beli baju baru juga?”Amak hanya akan tersenyum dan berkata baju lebaran amak masih bagus. Masih cantik.

Ah, seandainya saja saya bisa membelikan amak kerudung cantik. Saya sanksi kegembiraan amak menerima pemberian saya itu bisa lebih dari kegembiraan saya karena akhirnya bisa juga memberikan hadiah untuk amak. Atau mungkin saja amak justru akan berkta “Untuk kamu saja, kamu lebih membutuhkannya. Amak masih bisa pakai kerudung yang lama.” Seperti yang selalu amak katakan saat menawarinya untuk membeli beberapa pakaian untuk dirinya sendiri.

“Nak, waktu salat ashar sudah masuk, amak mau sholat dulu. Ditaro di makan alat sholat kamu nak?”

Mendengar amak, saya segera beranjak mencarikannya alat salat dari dalam lemari. Kemudian meletakkan sepasang mukenah dan selembar jilbab segi empat berwarna biru yang sudah mulai usang di atas kasur lantai. Sambil menunggu amak selesai berwudu di luar kamar, karena kamar saya tidak menyatu dengan kamar mandi dan tempat berwudu jadi amak harus berwudu di luar. Kemudian saya menyusul. Kami hanya punya sepasang mukenah jadinya harus bergantian salatnya. Saya membiarkan amak salat lebih dulu.

Setelah memakai sepasang mukenah dan bersiap untuk salat, amak memandangi saya dengan alis berkerut, “Sepertinya kamu salah sambil sajadah nak” sambil mengangkat jilbab yang tadi saya simpan bersama sepasang mukenah di atas kasur lantai, “Mana sajadahmu?” Tanya amak lagi.

“Jilbab itu untuk sajadah amak, saya tidak punya sajadah” saya menjawab amak dengan senyuman. Lalu membentangkan jilbab berwarna biru itu tepat di depan amak.
***
Setelah salat saya menemani amak ke pasar untuk membeli kerudung. Akan ia kenakan besok saat acara pernikahan kakak sepupu saya. Kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal saya ada pasar tradisional yang buka sampai sore menjelang magrib.

Amak berkeliling ke lapak yang menjual kerudung. Menanyakan harga sambil menyentuh bahan kerudung yang hendak ia beli. Berpindah dari satu lapak ke lapak yang lain, agar bisa menemukan yang cocok untuk amak kenakan, katanya. Begitu tiba pada lapak yang menjual kerudung-kerudung cantik, amak melihat-lihat dan menanyakan harganya. Sang penjual pun menawari amak kerudung yang menurut saya sangat cantik dengan renda dan manik-manik di seluruh tepiannya. Sangat cocok untuk dikenakan di acara resmi seperti resepsi pernikahan. “Amak kan sudah tua, tidak cocok kalau pakai yang terlalu mewah, takut kelihatan norak nantinya, jadi amak mau cari yang biasa saja.” Kata amak kemudian.

Setelah berkeliling hampir satu jam. Amak sempat mampir ke lapakan yang menjual peralatan salat. Setelah menanyakan harga beberapa sajadah yang berbeda, amak membeli satu sajadah bulu berwarna biru navy yang halus. Amak segera membayar dan laki-laki paru baya yang menjual sajadah segera mengantongi belanjaan amak dan menyerahkannya dengan senyum santun. Diterima amak dengan ucapat terimakasih.

“Ayo nak, kita pulang saja!” Kata amak setelah mengambil kantong plastik hitam berisi belanjaannya tadi.
“Loh, amak kan belum beli kerudung? Amak cari saja dulu, saya tidak buru-buru kok” kataku meyakinkan amak.
“Tidak usah, sepertinya tidak ada yang cocok dengan amak, amak pakai kerudung yang ada saja, masih bagus kok, kita pulang saja!” katanya lebih yakin.

Saya menurut saja. Tidak ingin mendebat amak. Padahal jelas-jelas banyak kerudung bagus yang mungkin cocok untuk amak kenakan. Tapi amak justru membeli sajadah, padahal itu bisa amak beli nanti saja. Bukankah yang penting sekarang adalah membeli kerudung untuk acara penting yang membuat amak sampai jauh-jauh datang kemari? Tapi mendebat amak bukanlah pilihan yang baik, saya hanya menurut saja dan kembali pulang bersama amak.

Keesokan harinya sebelum berangkat ke rumah saudara amak yang hendak mengadakan hajatan itu. Amak memberikan saya sehelai sajadah yang kemarin amak beli. “Gunakan untuk salat nak, sajadah yang bagus akan membuatmu betah berlama-lama sujud, dan nyaman juga kalau kamu salat. Ingat selalu salat lima waktumu yah!” kata amak sambil memelukku erat.

Saya masih sambil terpaku mendengar amak. 
“Amak akan menginap beberapa hari di rumah saudara. Kamu tak perlu mengantar amak, carikan saja angkutan umum yang bisa mengantar amak ke sana!” Kata amak kemudian, dan saya masih terdiam memandangi amak.

Bagaimana mungkin Tuhan bisa menciptakan seorang perempuan dengan cinta begitu besar? Amak memberikan lebih dari yang pernah saya harapkan. Bahkan lebih dari apa yang bisa ia berikan untuk dirinya sendiri. 

Bagaimana mungkin ada manusia dengan perhatian sebesar itu? 

Hari itu saya menerima hadiah sehelai sajadah bulu yang halus dari amak, sekaligus menerima hadiah istimewa dari Tuhan sepanjang umur saya dengan menjadikan saya lahir dari rahim seorang ibu yang penuh cinta kasih seperti amak.

Saya tahu, amak tidak jadi membeli kerudung karena uangnya tidak cukup jika harus membeli sajadah juga. Tapi amak bisa saja hanya membeli kerudung untuk dirinya sendiri. Apalagi untuk dikenakan di hari yang istimewa seperti itu.  Tapi karena cinta amak tak ada habis-habisnya, yang membuatnya selalu memprioritaskan saya di atas kepentingannya sendiri. 

Tak peduli sebesar apapun, saya akan tetap menjadi putri kecil amak. Yang akan selalu menerima cinta tak terhingga dari amak. 

Jika diperkenankan meminta pada Tuhan, saya hanya ingin diberi banyak kesempatan untuk memberikan cinta pada amak. Sekalipun sadar takkan pernah bisa memberi cinta sebesar yang saya terima dari amak sepanjang hidup saya.

Terima kasih amak, terima kasih Tuhan!!

Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba menulis Kompasiana Dengan Tema “Hadiah Dari Ibu”
#HadiahDariIbu

***

Terimakasih juga untuk kisah amak dari kawan saya, dan salam untuk ibumu!

Thanks for loving your mom!!



Rabu, 11 Juli 2018

REVIEW | NATURE REPUBLIC SHOOTHING & MOISTURE ALOE VERA CLEANSING GEL CREAM

7/11/2018 4 Comments

Akhir-akhir ini, lagi berisik benner yah perbincangan seputar “Aloe Vera” yang bertransformasi jadi skin care, cleansing dan makeup. Karena kandungannya yang sejak dulu dipercaya dapat memberikan banyak manfaat bagi kecantikan, terutama kulit wajah.

Salah satu di antara produk cleansing yang menggunakan aloe vera sebagai bahan dasarnya adalah Nature Republic Shoothing & Moisture Aloe Vera Cleansing Gel Cream. Cleansing gel ini digunakan sebagai first step cleansing (Salah satu tahapan dalam teknik double cleansing)

Ohiya. Selain aloe vera, juga sedang booming teknik membersihan wajah dengan cara double cleansing yang dipopulerkan oleh wanita-wanita Korea: Membersihkan wajah dengan dua tahapan atau lebih.

Kalau biasanya kita membersihkan wajah (Cleansing) hanya menggunakan Facial Wash (Sabun) atau pembersih wajah tertentu yang hanya dilakukan sekali tahapan saja, dianggap kurang maksimal. Apalagi jika usai beraktivitas seharian di luar ruangan, terkena debu, terpapar polusi, terbakar sinar matahari, dan juga menggunakan makeup. Sehingga double cleansing menjadi rutinitas yang sangat perlu dilakukan demi memastikan kulit wajah bersih maksimal.

Nah, double cleansing ini biasa dilakukan dengan cara membersihkan wajah terlebih dahulu dengan menggunakan makeup remover (Berupa: milk cleanser, micelar water, cleansing oil,  cleansing gel, ect.) kemudian disusul dengan penggunaan Sabun pembersih wajah (Facial Wash).

Mungkin beberapa di antara kita masih enggan melakukan double cleasning karena terkesan ribet. Memakan lebih banyak waktu untuk membersihkan wajah. Atau ada yang merasa dengan menggunakan sabun saja sudah cukup.

Kelihatannya memang sangat sepele. Sebab dengan menggunakan sabun pembersih wajah saja sudah terlihat bersih secara kasat mata, namun pada kenyataannya, kulit kita yang terdiri dari jutaan pori adalah daerah yang cukup rumit. Pori menjadi tempat kotoran, debu, minyak, serta sisa riasan terjebak, yang berpotensi mengakibatkan berbagai permasalah wajah, di antaranya:

- Kulit wajah menjadi kusam
- Mudah timbul komedo dan jerawat
- Tekstur kulit menjadi tidak rata (Break Out)
- Menyebabkan penuaan dini
- Penumpukan sel kulit mati
- Warna kulit tidak merata

Untuk menghindari masalah-masalah kulit wajah yang dapat diakibatkan oleh tidak maksimalnya pembersihan wajah, double cleasning dapat menjadi solusi tepat dalam menjaga kebersihan kulit wajah.
Apa saja keunggulan melakukan metode double cleansing dibanding hanya menggunakan one step cleansing:

- Membersihkan makeup yang waterproof  sekalipun
- Memastikan kotoran, debu, dan sisa riasan di wajah bersih secara menyeluruh
- Membersihkan kotoran hingga ke dalam pori
- Mencegah Photo-Polluaging
- Membersihkan sekaligus menutrisi kulit wajah secara bersamaan
- Menjadikan kulit wajah sehat terawat

So, sudah bisa dijadikan pertimbangan kan, kenapa double cleansing cukup penting dalam tahapan skin care routin?!


Oiya, kita kembali ke topik awal. Soal Nature Republic Shoothing & Moisture Aloe Vera Cleansing Gel Cream (namanya ribet sekali yak :D) Si Natreb cleansing gel ini adalah salah satu pruduk skin care keluaran brand Nature Republic yang terkenal menggunakan bahan-bahan alami, asal korea selatan.

Kemasananya berbentuk tube elastis berisi 150 ml. Stiker pembalut kemasan yang berisi info produknya agak lucu, mudah lepas dan bisa ditempel lagi. Kalau belinya bukan di situs belanja online terpercaya saya pasti sudah berpikir kalau produk itu palsu.


Awalnya, saya salah beli. Karena pesan online. Tadinya saya mau beli yang cleansing gel foam (sabunnya)
Belinya juga sudah agak lama. Saya lupa: saya yang salah tag produk atau si online shopernya yang salah kirim produk. Karena kemasannya sangat mirip. Beda di judul saja (Cleansing Gel Cream dan Cleansing Gel Foam). Ahk, si Nature Republik ini agak membuatku bingung -_-

Jadi pas pertama nyobain, saya tidak sempat lagi memperhatikan kalau ini cleansing gel cream, karena espektasi saya yah si Cleansing Gel Foam itu. Dan terjadilah drama di toilet: Pas dipake kok tidak berbusa. Jadi saya mencobanya beberapa kali. Hasilnya sama. Barulah saya memperhatikan tulisan di tubenya dengan saksama. Membaca keterangan produk di belakang kemasan.

Agak kecewa sih, untung saya belinya murah, hanya 50 ribuan di Althea (Sebelum Althe tutup karena perubahan kebijakan bea cukai) karena sedang diskon. Ohya saya sudah cerita ini di sini. Kebetulan belinya sama Jeju Volcanic pore clay mask. Bisa kalian baca reviewnya di sini.

Tidak sempat lagi saya memerhatikan khasiatnya. Karena kecewa drama salah beli tadi, akhirnya si Natreb Cleansing Gel Cream ini saya abaikan selama berbulan-bulan. Hingga akhirnya suatu ketika tidak sengaja baca reviewnya dan ratingnya bagus. Saya cobalah: hasilnya bagus, benar-benar bersih tapi tidak membuat kulit kering.

Cleansing gel cream ini tidak hanya membersihkan tapi juga dapat membuat kulit wajah jadi sengar karena kandungan aloe veranya yang menenangkan. Jadi sekaligus relaxation setelah dipoles berbagai macam makeup.


Kulit wajah saya termasuk sangat sensitif dan hampir selalu iritasi dan memerah (bintik-bintik merah). Setelah beberapa minggu melakukan double cleansing menggunakan Nature Republic Shoothing And Moisture Aloe Vera Cleansing Gel Cream, iritasi dan kemerahannya mulai mereda.

Cleansing gel ini cukup ampuh membersihkan makeup yang waterproof sekalipun. Tapi saya sangat tidak merekomendasikan memakai cleansing ini untuk area mata. Kalau kena mata perih cuy. Tapi kalau kamu tahan perih, silahkan saja!

Yah sekalipun produk ini sama sekali tidak travel friendly karena ukurannya yang terlalu besar (keliatan dari isinya: 150 ml). But over all, saya jatuh cinta pada produk ini. Terlebih pada hasilnya. (Iyalah suka, buktinya sudah mau habis 1 tube :D)


Deskription:
The Fresh gel-type cleansing gel cream effectively removes makeup residue and impurities from your skin with its rich aloe vera estract.

How to use:
Gently message with a fair amount over face and tissue off. Follow with a cleansing foam wash. 


Itusih aturan pakai ala Natreb. Kalau saya lebih suka meratakan ke seluruh wajah dan langsung dibilas. Terus pakai facial foam setelahnya. Ribet saja kalau harus pakai tissue atau kapas segala.

Etapi, saya agak heran, ini isinya gel dan cenderung cair, tapi dinamai “Gel Cream” Mungkin si Nature Republic cuman mau menegaskan kalau yang “Gel Cream” ini tidak berbusa dan yang “Gel Foam” berbusa hahah. Tapi sama-sama Gel.


Ingredients:
Water, dipropylene glycol, PEG-8, isoprophylmyristate, alcohol denat, PEG-7 glyceryl cocoate, C12-14 pareth-12, aloe barbadensis leaf extract, acrylates/C10-3- alkyl acrilate crospalymer, PEG-6 caprylic/capric glycerides, trethanolamine, disodium EDTA, phenoxyethanol, fragrance (Parfum)

Sekalipun Nature Republic Shoothing And Moisture Aloe Vera Cleansing Gel Cream ini mengandung alkohol dan fragrance (pewangi) tapi masih dalam tahap wajar kok, wanginya segar tidak begitu menyengat. Yang terpenting masih bisa banget dipake di kulit yang sensitif sekalipun.

Tapi buat kalian yang alergi alkohol dan pewangi, saya sarankan untuk hati-hati, sebaiknya dites dulu dibagian kulit lain yang sama sensitifnya seperti kulit wajah. Bisa docoba di pergelangan tangan bagian dalam atau di bagian leher, kalau tidak ada reaksi yang mencurigakan, silahkan diteruskan ke belakang! (Eh, ke kulit wajah maksudnya!)

The last, kalian bisa beli ini di olshop kesayangan kalian. Sudah banyak beredar di Indonesia kok. Harga normalnya kisaran 100-150k

Thanks for Loving me, #eh!

Jumat, 06 Juli 2018

Ilana Tan: In A Blue Moon (Review Novel)

7/06/2018 16 Comments


“No one is smart enough to remember everything he knows.
An idea unrecorded is an ide often lost.”
[Zig Ziglar]

Ingatan: salah satu hal terpayah yang dimiliki manusia.

Atau setidaknya itu yang berlaku untukku dan cukup sebagai alasan kenapa menulis kadang menjadi yang paling harus saya lakukan. Kemudian saya memilih blog sebagai sarana untuk itu, dengan alasan yang sederhana: di sini saya bisa ”ero-ero’ dan menuliskan apa saja dengan senang hati.

Sekalipun menulis juga selalu menjadi kegemaran yang kerap mengerjai. Tentu saja berbeda dengan mereka yang profesional dalam hal ini, yang mudah saja mengatur mood dan menemukan alasan untuk selalu menulis. Tak perlu menjungkir balik badan dengan harapan ide dari dengkul bergeser ke ujung kening.



Tapi penulis yang baik adalah pembaca yang baik, iya kan?

Penulis yang baik loh yah, bukan penulis yang hebat. Apalagi penulis yang tulisannya enak dibaca. Menggaris bahawahi soal “enak dan tidak enak dibaca” mungkin tulisan yang tengah sidang pembaca nikmati ini, adalah salah satu tulisan yang tidak enak dibaca. Tapi saya tetap berharap masih bisa dinikmati.

Ah, sial. Saya sudah ngelantur ke mana-mana. Padahal tadi niatnya mau mereview novel In A Blue Moon milik salah satu novelis favorit saya sejak jaman SMA dulu. Pertama kali jatuh cinta sama Ilana Tan pas baca Novel tetralogi empat musimnya: Summer in Seoul, Autumn in Paris, Winter in Tokyo, dan Spring in London.

Novel tetralogi empat musim itu bergenre drama, yang mungkin akan dianggap lebay sebab terlalu perfect dan over imaginative ala novel sekali. Tapi untuk saya dengan modal selera anak sekolahan, yah itu sudah sangat keren. Apalagi Ilana Tan mahir membuat pembacanya tenggelam dalam cerita yang ia buat dengan penggambaran tokoh yang sempurna dan plot yang mengalir. Hanyut deh!

Kecintaan saya terhadap Ilana Tan sempat berhenti sampai di situ. Setalah beberapa purnama belakangan ini, gairah baca saya mengalami gangguan akut. Saya bahkan hanya menumpuk beberapa buku agar rak di kamar saya tidak terlihat terlalu menyedihkan. Dengan harapan tambahan tentu saja: minat baca saya bisa kembali lagi kapan-kapan, atau saya sudah bisa melihat buku-buku itu melambai-lambai untuk dibuka.

Hingga akhirnya, saya bertemu sepupu kecintaan saya dan terjadi adegan saling tukar novel. Bertemulahsaya dengan kekasih lama, si Ilana Tan dalam In A Blue Moon-nya yang beraroma Metro Pop.

Tulisan ringan rasa “Snack Taro” memang pemantik ampuh untuk mengembalikan minat baca.

Masih seperti novel-novel Ilana Tan terdahulu, In A Blue Moon ini berkisah tentang gadis berperawakan Asia, dengan tubuh mungil dan rambut potongan bob yang fresh.


Sinopsis Novel In A Blue Moon

“Apakah kau massih membenciku?”
“Aku heran kau merasa perlu bertanya”

Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson di bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis itu masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu – oh bukan! – melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lucas oleh kakeknya yang suka ikut campur.

Lucas mendekati Sophie bukan karena perintah kakeknya. Ia mendekati Sophie karena ingin mengubah pendapat Sophie tetang dirinya. Juga karena ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang – ini sangat jarang terjadi, tentu saja – kakeknya bisa mengambil keputusan yang  sangat tepat.

Sophie Wilson, sang gadis berwaja Asia dengan mata coklat gelap. Menjadi bagian dari keluarga Wilson pasca diadopsi sejak SMA di Cichago kemudian melanjutkan hidupnya di New York setelah orang tua angkatnya tewas dalam kecelakaan.

Selaku pemiliktoko kue A Piece Of Cake dengan dua saudara lelaki (Brother in law) serta kakeknya yang sudah mulai renta, menjadikan Sophie menjalani kehidupan yang nyaris sempurna. Sebelum akhirnya ia bertemu kembali dengan seorang yang menjadi alasan kuat “sinar di matanya” sirna sejak sepuluh tahun silam. Jika ada orang yang paling ia benci di dunia ini, maka Lucas Ford-lah orangnya.

Kesengsaraan yang ditimbulkan Lucas seolah tak ada hentinya. Ia hadir kembali membawa serta niatan kakeknya untuk menjodohkannya dengan Sophie Wilson, yang bahkan dengan tanpa persetujuan siapapun, Gordon Ford, kakek Lucas Ford  mendeklarasikan pertunangan cucu semata wayangnya dengan Sophie Wilson. Selain Gordon Ford adalah seorang kakek yang energic dengan semangat yang akan melakukan hal-hal diluar imajinasi orang-orang disekitarnya demi mencapai keinginannya, ia juga dengan bangga misi perjodohan itu disebutnya sebagai “Misi yang belum usai” Sebab ia dan kakek Sophie adalah kawan karib yang pernah berencana akan mengawinkan anak mereka kelak, namun tak kesampaian sebab masing-masing anak mereka adalah lelaki.

Keruwetan yang harus dihadapi Sophie Wilson tak hanya berhenti pada “Lucas Ford dan Kakeknya” sebab di waktu yang hamapir bersamaan Sahabat karib salah seorang kakaknya kembali setelah pergi selama empat tahun ke Johannesburg untuk perjalanan dinas sebagai seorang wartawan dan tiba-tiba saja menanyakan kabar Sophie “Apakah adikmu sudah menikah?” tanya Adrian Graves pada Spancer Wilson, kaka sophie, “Kenapa kau menanyakan itu?” Tentu saja Spancer agak terganggu dengan pertanyaan sahabatnya yang baru ditemuinya lagi setelah empat tahun itu. “Dia pernah memintaku menikahinya!”

Seseorang yang pernah Sophie minta untuk menikahinya empat Tahun silam itu kini benar-benar kembali lagi, di saat ia tengah bimbang dengan perasaannya sendiri akan dua pilihan: masih membenci Lucas Ford atau telah memaafkan pria itu atas apa yang dilakukannya di sekolah sepuluh tahun silam.

Fakta bahwa Adrian, lelaki yang pernah sangat Sophie cintai tanpa peduli sekalipun hubungan mereka sama sekali tidak seimbang: sebab ia lah yang terlalu mencintai Adrian. Muncul dengan sikap yang berbeda, yang seharusnya telah ia lakukan empat tahun lalu jika tak ingin benar-benar kehilangan Sophie, namun fakta itu terlalu terlambat disadari oleh Adrian sendiri.

Belum lagi lelaki yang berani mendekatinya harus mengambil risiko ditembak mati oleh kedua kakanya, Adrian dan Lucas Ford sudah siap mengambil risiko itu, yang pada akhirnya Lucas Ford-lah yang mengambil risiko heriok itu lebih dulu dan menyingkirkan Adrian dari kesempatan yang telah disia-siakannya sejak empat tahun silam.

Mengapa Adrian sedemikian pengecut?

Karena berurusan dengan kedua kakak Sophie dalam hal “mendekati adiknya” adalah sesuatu yang tak pernah berani bahkan untuk dipikirkannya sekali pun, sebab ia adalah sahabat karib salah satu kakak Sophie yang over protective.

Kengerian yang serupa juga pernah dialami salah satu kawan Sophie yang dikenalnya sejak sekolah, seorang orientalis bernama Nicolas Lee yang pada akhirnya bisa lolos mengakrabi dan berteman dengan Sophie setelah kedua kakak Sophie memastikan bahwa ia bukan jenis lelaki yang berbahaya, atau setidaknya-tidaknya takkan membahayakan dirinya untuk melihat Sophie sebagai seorang wanita.




“ Kau mungkin tidak sempurna, tapi kau sempurna untukku”

Salah satu kalimat manis dari Lucas yang berhasil membuat jantung Sophie berdebar dengan ritme yang tak seharusnya. Sekaligus kesadaran yang mengusik Lucas, akan fakta yang terlambat ia sadari, ketertarikannya pada Sophie Wilson telah  bermula sejak mereka di sekolah sepuluh tahun lalu. Namun kelakuan remaja SMA yang cenderung egois dan keterlaluan membuat Lucas Ford menduduki tangga teratas dalam daftar orang-orang yang dibenci Sophie Wilson.



“Apakah kau masih membenciku?” 
“Aku heran kau merasa perlu bertanya.”

Terlepas dari keinginan kakeknya, Lucas sebenarnya punya dorongan dari dirinya sendiri untuk mendekati Sophie, dan membuat gadis itu mempertimbangakan kembali penilaiannya tentang Lucas yang bukan lagi si bocah nakal sebagaimana yang Sophie kenal di sekolah.

Lucas pun berusaha membuktikan bahwa ia telah berubah dengan cara-cara yang mengesankan dan manis, dengan melibatkan dirinya pada beberapa kegiatan yang Sophie lakukan, hingga memberikan bunga “paling indah yang pernah dilihat” gadis itu.

“Jangan Menciumnya!!”

Tapi apakah hanya pihak dari tokoh si gadis yang mengalami complicated war? Oh tidak, Lucas Ford pun tengah berurusan dengan kakeknya yang hampir tidak masuk akal itu dan seorang model cantik dengan rambut merah menawan serta keindahan yang diidamkan oleh semua lelaki yang melihatnya, dia adalah Miranda Young, si cantik yang telah lama jatuh cinta pada Lucas Ford dan melakukan berbagai cara untuk meresmikan hubungannya dengan Lucas. Namun tak pernah sekalipun mencicipi makanan yang dibuat sendiri oleh Lucas Ford sang pemenang Medali Michelin dan pemilik Ramses: sebuah restoran warisan Gordon Ford yang sangat terkenal di New York, yang orang-orang bahkan berlomba untuk dapat menikmati makan siang dan makan malam di sana dan tak jarang berakhir sebatas keinginan belaka saking sulitnya mendapat kursi.

Mirnda Young, juga menjadi alasan kecemburuan Sophie tersulut namun tetap mati-matian ia sembunyikan, hingga pada situasi tertentu, mereka (Sophie dan Lucas) membuat sebuah kesepakatan yang tak boleh mereka langgar di perayaan malam pergantian tahun “Jangan Menciumnya!”

Lucas yang karena sesuatu dan lain hal harus melewati perayaan pergantian tahun bersama Miranda Young di Cichago dan Sophie yang melewatinya di New York yang tentu saja dengan Adrian di Sekitarnya. Yang pada akhirnya kesepakatan itu pula yang membuat mereka saling meyalahpahami satu sama lain.

Etapi.. Endingnya bagaimana?

Hooree, Happy Ending!! (Haaakh, saya sudah spoiler semuanya :D)

Tapi jika masih penasaran, dan ingin menikmati sendiri betapa renyahnya Novel In A Blue Moon ini, sila baca sendiri yah :)

Well, waktunya berterimakasih pada Ilana Tan dan In A Blue Moon-nya, sudah berhasil membangkitkan gairah baca yang tertidur terlalu pulas, tak butuh berapa lama, saya menghabiskan novel ini dalam dua hari saja.

Setelah mempertimbangkan: tentu saja saya tak ingin menjadi penyumbang terhentinya peradaban, seperti yang telah diprediksikan oleh seorang eksponen hukum yang tersohor, Justice Oliver Wendell Holmes bahwa: Peradaban akan berhenti ketika pembaca terakhir telah berhenti membaca.

Hey, tarik satu buku di rakmu dan membacalah, selamatkan peradaban yang terancam punah!!

Heran yah? Kenapa saya kurang kerjaan mereview novel In A Blue Moon ini? Selain alasan “Ingatan adalah salah satu hal terpayah yang dimiliki manusia” padahal novel ini sudah terbit sejak lama, dan masanya sudah bisa dikatakan berlalu?

Ohya, Semua buku adalah baru bagi yang belum membacanya, sepakat?

Thanks for reading :)


Keteranga Novel 
Judul: In A Blue Moon 
Pengarang: Ilana Tan  
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Tahun Terbit: 2015 
Jumlah Halaman: 318 
Cover: Softcover


Kalian masih bisa mendapatkannya di Gramedia terdekat di kota kalian atau membelinya secara online di www.bukabuku.com

Senin, 25 Juni 2018

SEHAT BEBAS WORRY ALA HIJUP X SOFTEX DAUN SIRIH

6/25/2018 14 Comments



Ngomong-ngomong soal pembalut, rasanya masih segar dalam ingatan saya pengalaman saat pertama kali mengalami menstruasi di kelas VIII sekolah tingkat pertama. Situasi yang benar-benar mendebarkan; takut, khawatir sekaligus juga malu bilang sama mama. Jadinya worry sendiri, tidak mau keluar kamar saat sedang di rumah. Paling parahnya lagi, itu masih moment sekolah, dan saya “tembus” sepulang sekolah karena belum tahu apa-apa soal macam-macam pembalut. Asal dapat beli saja yang ada.

Saya masih suka risih sih kalau ngomongin seputar menstruasi dan permasalahan Miss V pada siapapun, sekalipun itu mama. Padahal hal ini sangat penting, mengingat area sensitif kita benar-benar butuh perhatian dan perawatan khusus untuk mencegah berbagai masalah yang mengintai setiap saat, terutama masalah kebersihan dan kelembaban yang dapat berefek fatal, bisa menyebabkan keputihan, infeksi bahkan hingga penyakit serius seperti kanker.

Mungkin ada yang mengalami kerisihan seperti saya? Bahkan kalau ditanya pun “Kok tidak salat? Anu yah?” Rasanya ingin jawab “Kalau kira-kira sudah tahu jawabannya, tidak usah bertanya!” sambil nabok mukanya.

Tentu saja itu bukan keputusan yang tepat, sebab edukasi dini seputar Organ Reproduksi wanita sangatlah penting, olehnya saya sangat antusias saat dapat undangan untuk menghadiri acara HIjup Bloggers Meet Up X Softex Daun Sirih yang mengusung tema “Ngobrol Sehat Bebas Worry” yang bertempat di On20 Bar & Dining Sky Lounge yang letaknya di lantai 20 hotel Aston, di akhir Ramadan kemarin, tepatnya di tanggal 8 Juni 2018. Terlebih lagi saat tahu pembicaranya adalah spesialis Obgin (dr. Bram Pradita, SpOG), kesempatan baik di bulan yang baik 😊

Selain Dr. Bram juga turut hadir Ashry Rizqi Rabani (Social media influencer) dan Anastasia Erika (Brand Manager PT. Softex Indonesia) dan tidak kalah penting juga ada Bang Sandi Geta yang mengajarkan trik photograohy khusus flat lay yang diakhiri dengan flat lay photo challenge.


OBROLAN SEPUTAR PERMASALAHAN WANITA

Bagian yang paling seksi dari Ngobrol Sehat Bebas Worry ini adalah...... Obrolan seputar permasalahan wanita dan solusi perawatan serta pemeliharaannya #ciah :D (Grogi Uga. Hahaha) apalagi dokternya laki.

Sebagai pembuka obrolan, dr. Bram memaparkan beberapa kondisi dan permasalahan yang umum dialami wanita, yakni keputihan. Sekalipun dalam kondisi umum tidak semua keputihan berbahaya, dalam taraf normal keputihan masih aman jika belum menunjukan gejala-gejala yang mengganggu. Karena pada fase bulanan, normal saja jika kita mengalami keputihan menjelang menstruasi atau sebab hormonal selama jumlah cairan yang keluar tidak terlalu banyak, konsentrasi cairan bening tidak mengental, menguning, kehijauan bahkan coklat bercampur darah, atau beraroma tak sedap.

Olehnya sangat penting untuk menjaga kebersihan area Miss V dan mencegahnya dari kondisi lembab, sehingga sangat dianjurkan untuk mengganti celana dalam setiap 3 jam sekali, atau setidak-tidaknya setelah buang air kecil atau sebelum salat 5 waktu. Ribet kan? Apalagi kalau kita lebih banyak beraktivitas di luar rumah, dan tidak memungkinkan untuk mengganti dalaman sesering itu. (Tapi tenang, ada solusi praktis dan aman untuk ini, keep reading yah 😊)

Selain menjaga kebersihan pakaian yang bersentuhan langsung dengan Miss V, juga pola hidup tidak sehat yang dapat memicu masalah seputar area kewanitaan, yang meskipun kelihatannya sangat sepele dan seringkali terabaikan oleh kita.

Dari penuturan dr. Bram, selain pola hidup yang tidak sehat, juga terdapat beberapa faktor yang dapat mengganggu kesehatan organ intim wanita serta penyebab infeksi, yakni;

  • ·     Seks bebas
  •       Merokok
  •       Mengkonsumsi Alkohol
  •       Stress
  •       Penyakit-penyakit dan kondisi tertentu seperti HIV, Diabetes Melitus dan Obesitas
  •       Antibiotik yang tidak rasional
  •       Perubahan hormonal



Selain menghindari pola hidup tak sehat, juga ada beberapa kiat yang dapat dilakukan demi menjaga kebersihan dan kesehatan Miss V anda, di antaranya;

Menjaga area V agar tetap kering dan bebas lembab. Area lembab menjadi tempat potensial bagi perkembang biakan bakteri dan jamur. Olehnya sangat penting mengeringkan area V setelah buang air besar maupun kecil dan mengganti celana dalam, atau mengganti pentyliner.

Basuh Miss V sebelum dan sesudah bersenggama. Lakukan pembasuan dari daerah depan ke belakang, untuk memastikan Miss V benar-benar bersih, sebab jika membasuh dari arah belakang, kekhawatirkan akan membuat bakteri berpindah ke area Miss V.

Gunakan pembersih miss V yang terbuat dari bahan alami. Sebaiknya menghindari penggunaan sabun yang mengandung bahan kimia dan wewangian yang menyengat, karena dapat merusak keseimbangan pH dan menganggu aktivitas bakteri baik yang berfungsi milindungi Miss V dari bakteri berbahaya.

Hindari vaginal douching. Yakni menyemprot cairan pembersih berbahan kimia ke dalam vagina dengan alat douche, sebab lebih rentan mendorong bakteri justru masuk ke dalam vagina.

Bersihkan Miss V sesaat setelah berolahraga. Sebab keringat sangat rentan memancing pertumbuhan bakteri berbahaya di area miss V, olehnya segera membersihkan area V setelah berolahraga atau berkeringat lebih.

Ganti pembalut atau pantyliner setiap 3 jam sekali. Ini sangat penting mengingat, saat menstruasi area V rentan mengalami lembab, dan dalam kondisi diluar menstruasi juga sangat penting untuk rutin mengganti pentyliner secara teratur untuk menjaga Miss V tetap kering dan nyaman.

Menghindari penggunaan celana dalam yang terlalu ketat dan sebaiknya tak menggunakannya saat tidur. Penggunaan celana dalam yang ketat rentan menyebabkan lembab dan Miss V sulit bernafas, dan tidur dalam keadaan tidak menggunakan celana dalam dapat meningkatkan kualitas tidur, dan anda dapat bangun di pagi hari lebih fresh.

Jika telah melakukan kiat-kiat tersebut untuk menjaga kebersihan dan kesehatan Miss V serta menghindari pola hidup tak sehat namun keputihannya mulai menunjukan gejala yang menggangu patut dicurigai, seperti hal-hal berikut;

  • ·    Jumlahnya banyak dan dalam jangka waktu yang lama.
  •      Berubah warna, jika keputihan yang normal cenderung tak berwarna atau bening.
  •      Teksturnya lebih kental, menyerupai susu pucat, kecoklatan bahkan disertai darah.
  •      Aroma tak sedap, hal ini cenderung dipengaruhi oleh hormon, dan efek infeksinya. (Aroma keasaman mengindikasikan bakteri baik yang mendiami Miss V sedang berperang melawan bakteri jahat, jamur atau virus lainnya).
  •      Berasa gatal dan panas di sekitar Miss V.Berasa nyeri yang mengganggu.


Jika sudah mengalami keputihan up normal demikian, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter, jangan menunggu hingga kondisinya parah dulu karena enggan atau malu.

SOFTEX DAN PENTYLINER DAUN SIRIH
Oiya, soal mengganti dalaman minimal sekali tiap 3 jam, tentu akan merepotkan apalagi bagi yang beraktivitas di luar rumah dengan mobilitas tinggi, solusi praktis dan aman yang saya tunda tadi adalahhh..... “Pakai saja pentyliner! Yang bisa diganti tiap 3 jam atau saat buang air kecil tanpa harus mengganti dalaman. Apalagi saat bepergian dan traveling. Praktis kan?
Varian Produk Softex Daun Sirih

Tak usah khawatir menggunakan pentyliner, karena sudah ada Pentyliner dari Softex daun sirih yang aman dan higienis karena menggunakan antiseptik alami daun sirih, jadi aman dan dapat menghindarkan Miss V dari kondisi lembab selama beraktivitas seharian.
Selain pentyliner, pembalut saat menstruasi juga harus diperhatikan, sebab saat masa menstruasi Miss V sangat rentan mengalami lembab sehingga juga penting untuk menggantinya tiap 3 jam sekali. Selain rutin mengganti, anda juga patut memperhatikan pemilihan pembalut yang tepat, dengan kemampuan daya serap yang tinggi untuk menjaga area V tetap kering dan bebas lembab.

Nah Softex dan Pantyliner Daun Sirih ini adalah produk sanitary napkin terbaik yang mengandung ekstrak alami daun sirih, sebagai antiseptik alami yang melindungi wanita agar lebih bersih dan sehat. Softex dan Pantyliner Daun Sirih berada di bawah bendera Softex Indonesia yang merupakan produsen pembalut pertama di Indonesia.

Dengan klaim daya serap tinggi yang mampu menyerap cairan dalam 1 detik untuk menjaga permukaan tetap kering. Juga softex daun sirih ini sudah lulus uji hipoallergenic dari Austrian Dermatologist jadi sangat aman untuk kulit sensitif sekalipun. Tentu saja yang paling penting Softex Daun Sirih sudah mengantongi sertifikat halal dari MUI. Jadi sangat aman!



Kenapa Softex memilih daun sirih sebagai pengganti antiseptik, selain karena kandungannya yang alami dan tentu saja aman, penggunaan daun sirih juga secara otomatis meminimalisir penggunaan bahan kimia berbahaya. Daun sirih juga sudah sejak lama dipercaya dan digunakan untuk keperluan kecantikan dan kesehatan, terutama dalam memelihara kesehatan area kewanitaan. Jadi bebas worry kan yah?!

FLAT LAY PHOTOGRAPHY

Tak kalah menarik dalam Hijup Bloggers Meet Up X Softex Daun Sirih dalah turut serta menghadirkan Bang Shandy Geta selaku photographer andal yang dikenal telah sejak dulu malang-melintang di dunia photography, yang membawakan workshop flat lay photography. Salah satu trand teknik photo yang sedang banyak digandrungi. Flat lay ini adalah teknik membidik gambar dari atas ke bawah lurus 90 derajat, dengan objek yang diletakkan di atas bidang datar.

Karena skill photography merupakan salah satu yang terpenting bagi blogger dan pelaku sosial media, sebab demi menunjang keterampilan menulis, pengambilan gambar yang menarik juga menjadi nilai tambah bagi tulisan atau konten yang diciptakan. So, workshop ini sangat worth it.

Karena sudah membaca sampai akhir, Uga kasih hadiah yah, berupa voucher belanja sebesar Rp. 50.000 untuk pembelian minimum Rp. 250.000 di HIjup dengan kode voucher HIJUPSFTXMKS  masa berlaku voucher hingga 12 Agustus 2018 loh yah. Buruan lagi banyak koleksi dan promo menarik loh di Hijup.com

Thanks For reading :*